BENCANA DI HARI SENJA
(Translator : Ridho. H)


Bagian 1
“Besok kita berenang, yuk!”
Setelah sepuluh kali menang beruntun dalam pertandingan selekasi, Ikki menyampaikan itu kepada Ayase. Ini bukan berarti dia ingin bermain-main. Selagi Ayase belum menyadarinya, karena latihannya dengan Ikki setiap hari, tubuh ayase bisa stres, terutama karena posturnya. Posturnya baru saja diperbaiki beberapa hari yang lalu dan dia tampak masih belum terbiasa. Dengan kata lain, Ayase harus berulang kali menggerakkan otot yang tidak digerakkan sebelumnya.
Itulah kenapa hari ini akan menjadi hari libur. Dan untuk melakukan yang terbaik, Ikki telah mempersiapkan menu latihan yang sempurna. Dia akan pergi ke kolom renang untuk alasan tersebut.
Selain Ikki yang menunggu Ayase pagi itu, Stella, yang mengenakan gaun one terusan putih yang mengingatkan kita pada nuansa dingin di awal musim panas, juga ada disana.
“Aku ikutlah. Kalau gak kuawasi, kamu mungkin bakal ngelecehin Kak Ayase lagi.”
“Tapi aku enggak ngelecehin dia.”
“Bohong. Padahal kamu udah ngelakuin itu beberapa hari yang lalu. Cowok baik-baik gak bakalan ngeraba-raba paha cewek seenaknya.”
“Aku ngelakuin itu buat ngebaikin posturnya Kak Ayase doang. Itu hal penting yang kalau aku salah sedikit aja… yah, aku gak punya waktu buat ngejelasin gimana jadinya kalau aku sembrono.”
Suasana hati Stella telah memburuk beberapa hari belakang. Tentu saja, Ikki tahu alasannya. Itu karena dia hanya memperhatikan Ayase beberapa hari ini. Itu mungkin yang Stella pikir. Yah, mau bagaimana lagi. Jika Stella, sebagai kekasih Ikki, mendekati laki-laki lain, Itu tidak akan bagus untuknya. Itulah kenapa dia mengerti perasaan Stella. Tapi tetap saja—
“Hey Stella, aku gak pernah ngeliatin Kak Ayatsuji secara mesum sekalipun, percaya aja. Aku cuman ngebantu dia dikit sebagai sesama pendekar pendang. Itu aja… lagian gak ada orang yang gak butuh bantuan orang lain dari waktu ke waktu.”
Ikki bahkan tidak pernah sekali saja dibantu seperti ini. Para orang dewasa yang seharusnya membantunya malah memperlakukannya seperti musuh. Itulah kenapa, setiap dia melihat seseorang yang butuh bantuan dalam memecahkan masalah mereka sendiri, dia sangat berkeinginan untuk membantu mereka. Dia akan membantu mereka memanjat tembok yang tidak bisa mereka panjat karena dia tahu seberapa sulitnya melakukan itu seorang diri.
“Cuman itu alasan aku ngebantu Kak Ayatsuji, dan itu bukan karena karena aku ada rasa sama dia. Sumpah! Lagian yang kucinta… itu kamu doang, Stella.”
“…Ikki…”
Dengan pipinya yang bersemu merah, Stella memandang Ikki. Ada suatu kegelisahan pada mata merahnya, seperti yang diharapkan. Ya, Stella sudah mengetahui hal itu. Ikki tidak memiliki perasaan khusus  kepada Ayase yang seharusnya membuat Stella khawatir. Pria yang dicintainya adalah orang yang seperti itu. Namun tetap saja… Stella masih merasa insecure. Itu karena satu-satunya hal yang mengikat hubungan mereka hanyalah sebuah janji. Mereka belum melakukan apapun untuk menunjukkan rasa cinta mereka selain itu.
Bibir Stella manyun seperti mendambakan sesuatu. Bibir merah muda itu, kelihatannya memanggil-manggil nama kekasihnya. Ah! Itu benar, jika saat ini dia bisa membuktikan kata-katanya yang pada malam itu bukan hanya sekedar percakapan biasa, dia akan lebih memercayai kekasihnya.
Aku…
Ikki menggambarkan bibir Stella yang semakin dekat seperti lebah yang menginginkan madu dari bunga.
“Maaf karena udah ngebuat kalian nunggu! Aku gak bisa nemuin baju renangku, jadi mesti kucari dulu.”
“”Uwaaaaaaaah!!!”
“Kenapa? Kalian teriak kayak pasangan yang keciduk pas mau lagi mesra-mesraan.”
Uwah! Tebakan yang beruntung!?
Keduanya berkeringat  gila-gilaan di depan Ayase.                                                                
“Gak apa apa-apa! ‘Kan, Ikki?”
“Iya! Kita cuman kaget karna kamu tiba-tiba manggil.”
“…?”
Ayase memiringkan kepalanya. Dia tidak tampak yakin. Itulah kenapa Ikki menarik kedua gadis itu dan buru-buru beranjak.
Tadi itu berbahaya. Karena menurut posisi Stella, hubungan mereka akan menjadi skandal internasional. Ikki harus lebih berhati-hati ketika dia menciptakan suasana romantis lain kali.
Namun itu sangat disayangkan. Selain pada malam itu, ini adalah satu-satunya waktu dimana sebuah suasana yang seperti itu muncul secara natural. Jika saja Ayase sedikit terlambat, mereka mungkin telah berlanjut ke tahap berikutnya. Ikki menyadari dia baru saja kehilangan sebuah kesempatan langka, dan menghela nafas.

Bagian 2
Di dalam kampus Akademi Hagun, terdapat sebuah kolam renang. Lebih rinci lagi, ada dua kolam renang yang masing-masingnya sepanjang 100-meter. Namun hari itu, kolam renang pertama sedang dalam pembersihan rutin dan yang kedua digunakan oleh Shinguuji Kurono, si mantan peringkat ketiga dalam jajaran kesatria dunia dan direktur baru Akademi Hagun, untuk latihan spesialnya. Itulah kenapa mereka bertiga pergi ke gimnasium olahraga yang terletak di dekat Akademi. Mereka akan menggunakan kolam renang indoor.
Anak laki-laki hanya memakan sedikit waktu untuk berganti pakaian, dibandingkan para gadis. Itulah kenapa, setelah berganti ke celana pendek standar merah hitam, Ikki menunggu para gadis di luar. Setelah beberapa menit, dia melihat Stella dan Ayase keluar sambil mengenakan pakaian renang masing-masing.
Ayase, yang bersikap terlalu serius dan terlalu malu, mengenakan pakaian olahraga khusus yang dapat bertahan dalam gerakan-gerakan kebugaran ringan. Namun karena dia memiliki figur yang menggairahkan karena hasil latihan sejak masa kanak-kanak, baju renang itu tampak menawan pada caranya sendiri, meskipun warnanya polos.
Namun… yang lebih mencolok adalah Stella. Dia mengenakan baju renang yang jauh berbeda dari yang ditunjukkannya di kamar mandi Ikki, sebuah bikini hitam-kelam. Dibandingkan dengan milik Ayase, bikinya jelas memamerkan kulitnya lebih banyak, dan saat dia berjalan, dadanya yang besar dan bahenol, putih, seperti persik memantul-mantul.
Dan itu bukan hanya dadanya saja; pinggulnya mampu membuat laki-laki manapun terkesima. Sebuah pinggul yang mempesona dan juga menggoda, sesuatu yang kau tidak akan lihat pada orang-orang Jepang kebanyakan. Dari sana, garis kaki yang indah memanjang akan membuat kau sulit memalingkan mata. Meskipun kekuatan fisiknya luar biasa, bagaimana bisa dia memiliki tubuh yang lembut dan seksi? Meskipun dengan visi Ikki yang dinamis, ini merupakan misteri untuknya. Dan lebih dekat lagi. Ikki tidak bisa menemukan apapun selain kegelapan saat menganalisisnya.

Dan akhirnya, fitur paling mempesona darinya adalah… caranya berjalan. Mungkin karena dia dilatih sebagai putri kerajaan, sikap Stella saat berjalan sangat cantik, seperti seorang model-model yang tampil di paris.
Yeah… Stella sangat cantik. Tanpa disadari, Ikki terkesima. Tidak hanya dia, setiap pengunjung yang sedang beristirahat di pinggir kolam juga sama, dan bahkan seorang perenang di lintasan, juga memandangnya selagi dia melompat ke dalam air. 
Stella menunjukkan wajahnya ke media dari waktu ke waktu, jadi mungkin beberapa dari pengunjung tersebut mengenalinya. Jadi selagi menaruh pandangan mereka padanya, Stella—
“Maaf, ya. Cowok kalo ganti baju, itu cepet banget ‘kan, ya.”
Stella bicara kepada Ikki. Langsung saja, Ikki merasakan gelora ombak yang dipenuhi niat membunuh, yang sensasinya lebih mengerikan dibanding ketika dia dihujani anak-anak panah tak kasat mata.
“Huh! Oi, oi, oi, apaan tuh!? Dua cewek itu bareng sama tuh cowok!?”
“Gak mungkin… Cewek kayak mereka mau bareng sama seseorang yang kelihatan lembek kayak dia…!?”
“OI, oi! Sangkamu negeri ini ngebolehin kamu punya pasangan yang gak selevel sama kamu?”
“Awas aja kamu bangsat!”
Aku mungkin akan mati tenggelam hari ini.
Selagi Ikki berkeringat dingin, Stella mengamati seluruh area kolam renang dengan ekspresi penasaran. Sejak mereka tinggal bersama, dia mungkin hampir lupa, kalau dirinya adalah seorang putri. Ini mungkin pertama kalinya dia datang ke kolam renang umum.
Kolam renang itu sepanjang 50 meter, lebih kecil daripada yang ada di kampus. Kolam renang itu terbagi menjadi dua bagian, yang satu untuk lintasan dan yang satunya lagi untuk publik. Karena ini masih bulan Juni, pengunjungnya tidak begitu banyak.
“Lumayan gede juga, ya.”
“Vermilion-san seorang putri ‘kan? Berarti di rumahmu ada kolam renangnya juga ‘kan?”
“Gak ada. Tapi bak mandi kami kira-kira segede ini lah.”
“Wow! Gila! Kayak artis-artis.”
“Yah sebenarnya yang itu buat pelayan sih. Yang untuk anggota kerajaan itu agak lebih kecil. Jadi kalau orangnya dikit, kolam renangnya bakal serasa luas.”
Sekarang Ikki baru ingat, gaya hidup Stella tidak begitu berbeda dibandingkan orang biasa. Yah, terkecuali ketika dia terkejut dengan adanya kopi instan. Kerajaan Vermillion tidak begitu besar untuk ukuran suatu negara. Mungkin keluarga kerajaan disana menjalani hidup sederhana.
“Tapi tetap aja, aku lega. Aku khawatir karena rumornya orang-orang Jepang itu pada mesum, tapi karena ada banyak orang aku jadi gak takut lagi.”
“Yah, kolam renang pada dasarnya memang kayak gitu.”
“Jadi kita bisa bersenang-senang sepuasnya ‘kan?”
Sambil mengatakan itu, Stella mengeluarkan sebuah bola pantai. 
 “Enggak. Kita kesini gak buat main-main tau.”

“Eeh! Terus ngapain kamu ikut kesini?”
“Ngapain Stella ikut?”
“U-ooh! Padahal aku sudah susah payah ngebawanya…”
“…’Oke. Kita main habis latihan. Tapi bolanya disimpan dulu.”
“Kayaknya aku gak punya pilihan… Tapi pokoknya nanti kamu harus main sama aku!”
Stella mengoper bola itu kepada Ikki. Kelihatannya dia benar-benar datang untuk bermain hari ini. Aneh. Ikki telah memberitahu Stella jika mereka datang kesini untuk latihan hari ini.
“Btw Kurogane-kun, hari ini kita latihan kayak gimana? Berenang?”
Terhadap pertanyaan Ayase, Ikki menggelengkan kepalanya.
“Enggak, yah, kita ‘kan sudah latihan begini dan begitu, jadi hari ini kita stop dulu semua latihanya. Lagian kamu capek juga latihan terus ‘kan?”
 “Terus kita mau ngapain?”
“Jujur aja, kita gak bakal ngapa-ngapain.”
 “Eh?”
“Kamu ngapung dan meluncur aja kayak ubur-ubur.”
“Memang itu ada gunanya?”
“Ada.”
Ikki berani menjaminnya.
“Mulanya, itu bakal ningkatin kapasitas paru-parumu. Dalam pertarungan tiba-tiba, ini penting banget. Jadi ini kayak latihan anaerobic. Kenapa penting? Soalnya orang yang kapasitas paru-parunya lebih dikit bakalan ngeluarin suara pertama kali dan langsung kalah. Bagi kita pendekar pedang, ini sesuatu yang penting kayak latihan fisik.”
Sebenarnya ada makna yang lebih dalam terkait latihan ini.
“Kurasa kamu bakal ngerti kalau udah nyobain sekali, soalnya pas kamu di bawah air, kamu bakal ngerasa lebih dekat dengan dirimu sendiri.”
 “?”
Ayase kemungkinan tidak mengerti apa yang Ikki katakan. Dia memiringkan kepalanya, yang mana itu sedikit imut.
“Pas kamu di bawah air, kamu gak boleh berdiri, sebaliknya kamu harus berkonsentrasi buat ngerti apa yang kamu lihat. Jadi kamu mesti masuk ke alam bawah sadarmu, dan coba dengerin gema suaramu sendiri.”
Ayase tidak begitu mengerti kenapa Ikki membuatnya melakukan ini, tapi dia tidak memiliki alasan untuk meragukannya. Mengikuti kata-katanya tanpa komplain, dia menahan nafasnya dan merendam tubuhnya di bawah air. Jika itu seseorang yang ahli seperti Ayase-san, maka dia seharusnya dapat mengerti maksudnya dalam sekali percobaan. Ayase mungkin dapat bertahan tiga menit di bawah air.
“Kayaknya nih bola mesti kubalikin ke loker. Soalnya nih bola bakalan ngeganggu aja kalau ada disini.”
Dengan demikian, Ikki menyimpan bola yang dibawa Stella.

Bagian 3
Setelah Ikki pergi, situasi menjadi membosankan bagi Stella.
Itu bukan karena dia merasa iri dengan Ayase. Itu lebih seperti dia tidak memahami Ayase dan ilmu pedangnya. Karena itu, Stella tidak ingin menganggunya dengan celotehan-celotetan tak berguna.
Mem~bosankan…
Karena dia luang, dia juga sedang mencoba metode latihan yang Ikki sarankan. Dia menahan nafasnya, dan merendam seluruh tubuhnya ke dalam air.
Itu tidak menyakitkan. Kapasitas paru-paru Stella bahkan jauh melampaui Ikki. Kalau dia mencobanya, dia bahkan bisa bertahan di bawah air selama 10 menit. Lagipula dia telah berada di kategori superhuman.   
Rasanya seakan tidak ada siapapun disana. Padahal ada para pengunjung lain yang berenang, dan suara-suara anak-anak kecil di sekitarnya. Tapi di bawah air, seolah tidak ada apa-apa. Saat dia melihat ke atas, permukaan air terasa jauh… seolah dunia sendiri berada di tempat yang sangat jauh.
Di sisi lain… dia dapat mendengar suara denyut nadinya. Itu adalah suara yang tidak bisa dia dengar di luar karena kebisingan. Selain itu, dia bahkan juga bisa mendengar suara aliran darahnya, saluran sarafnya; dia dapat menangkap keseluruhan suara tersebut lebih jelas.
“Pas kamu ada di bawah air, kamu bakal ngerasa lebih dekat dengan diri kamu sendiri”  
Inilah yang Ikki maksud. Dan untuk kesatria sekuat Stella, dia bisa mengerti ini tanpa harus diberitahu olehnya. Untuk bisa memahami sensasi ini, bisa merasakan alam bawah sadar yang perlahan terlelap.
Sebagai contoh, gerakan mengayunkan pedang. Itu adalah kombinasi antara mengayunkan tangan yang memegang pedang, sinkronkan dengan genggaman jari-jemari, alirkan sinyal saluran saraf, keluarkan kekuatan fisik, dan ayunkan pedang setelah ketiga hal itu selesai dilakukan. Dengan kata lain, ini bisa menjadi perbedaan besar. Jika dia tidak bisa mengontrol ketiganya dalam waktu tiga menit… tidak, nano-detik maka tubuhnya tidak pantas masuk ke medan pertempuran.
Namun Ayase bisa melakukannya. Kalau dia bisa, maka Stella harus memaksakan diri untuk menggunakan wujud ilusinya dari awal. Itu jelas sekali. Sebelumnya, alasan kenapa keadaannya semakin lama menjadi semakin baik karena Ikki mengoreksi titik-titik kesalahannya. Meskipun demikian, kondisi tubuhnya berubah setiap hari. Saat itu terjadi, satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah terus berlatih tanpa lelah. Saat dia bisa melakukannya, barulah dia bisa melampaui potensi kekuatannya.
Karena itu, latihan ini sangat bagus bagi Ayase. Namun bagi Stella, itu tidak benar-benar diperlukan, karena dia berada di tingkat dimana semua itu otomatis bisa dikuasasinya tanpa dia sadari.  Itulah alasan kenapa semua ayunan pedangnya selalu mematikan, meskipun dia mungkin secara tidak sengaja sedikit mengacau.
Namun… aku terlalu naif.
Air menggelegak di permukaan, Stella bergumam.
Sampai saat ini, Stella telah menjalani latihan lebih keras daripada siapapun. Dia mengira jika dia telah mendorong tubuhnya sampai batasnya. Namun itu tidak benar. Ittou Shura milik Ikki, adalah batasan mutlak. Dia masih belum bisa mengalahkan teknik itu. Mengerahkan segenap kekuatannya, dan menggunakannya dalam waktu satu menit, mustahil bagi Stella melakukan itu. Dan itulah kenapa dia sampai kalah dari Ikki. Stella memiliki kapasitas paru-paru lebih besar daripada Ikki, tentu saja, juga dengan tenaganya, mana, kekuatan apinya, semuanya jauh diatas Ikki. Tapi tetap saja Stella harus mengakui kemenangan Ikki. Karena cara hidup mereka juga sangat berbeda. Meskipun Ikki saat ini berdiri di atas bumi, dia berada di tempat yang jauh lebih dalam daripada air yang didiami Stella, dan jauh lebih gelap dari lautan terdalam dimana cahaya bahkan tidak bisa mencapainya.
Dan seperti itulah dunia Ikki yang dulu… jika Stella bisa mencapai tempat itu, maka dia mungkin bisa memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat daripada Ikki sekalipun.
Stella memejamkan matanya perlahan-lahan. Dia menyelam semakin dalam sampai semua cahaya lenyap. Hanya menyisakan hasrat membaranya saja. Hanya dia yang ada disana. Di tempat yang diselimuti kegelapan dan kesunyian. Namun, dia belum mencapai dasar kolam, kedalamannya masih sangat jauh untuk kakinya menjangkaunya. Lebih dalam… semakin dalam… dan  semakin dalam.
“Btw, benar ya Vermillion-san jadian sama Kurogane-kun?”
“Guehghgh.”
Stella tenggelam.

Bagian 4
“Aduh, sakit, hidungku, rasanya sakit banget…”
Sambil menekan hidungnya, Stella mengutuk ketidakmampuannya. Meskipun dia menyelam begitu dalam, dia masih bisa mendengar suara-suara di sekitarnya. Itu saja sudah menjadi bukti jika latihannya masih belum cukup  baik.
Ikki malah bisa mematikan semua inderanya, baik yang penglihatan maupun pendengarannya.
Sedangkan, jika Stella bisa melakukan itu sampai ke tahap kemampuan Ikki, Ittou shura hanya akan menjadi lelucon. Sekali lagi, Stella menyadari seberapa jauh tempat yang harus dia raih.
“M-Maaf Vermillion-san. Kamu gak pa-pa?”
“Y-Yeah. Aku gak pa-pa…”
“Tapi reaksimu tadi lebay banget… kayaknya benar…”
“E-Enggak! Enggak benar sama sekali! Masa putri kekaisaran kedua dari kerajaan vermillion pacaran sama orang biasa kayak dia! Gak mungkinlah!”
“Jadi kalian beneran gak pacaran?”
“Ya enggaklah!”
“Berarti gak pa-pa dong kalau aku PDKT-in Kurogane-kun.”
“Bisa diulang?”
Balasannya otomatis berubah menjadi pertanyaan.
“T-T-Tunggu bentar! Bukannya kamu bilang kalau kamu cuman diajarin ilmu pedang sama dia doang? Berarti gak ada semacam perasaan khusus gitu ‘kan?”
“Awalnya gak ada. Tapi hey, kamu tau ‘kan kalau Kurogane-kun itu kayak prajurit yang keren. Dia bahkan mau dengerin permintaan stalker kayak aku ini.. dia memang lebih muda, tapi sifatnya dewasa banget ‘kan? Dia juga orangnya baik banget pas ngajar, oh, dan terutama pas ngajarin aku. Bagiku, dia itu cowok yang ideal. Dan baru-baru ini, aku udah mulai terbiasa ngobrol sama dia. Kalau dia benar gak ada yang punya, mungkin aku bilang aja ke dia kalau aku su—“
“E-Enggakkkkk!”
Stella berteriak dengan lantang dan mengganggu pengakuan Ayase.
“Enggak! Enggak! Enggak bolehhhhh!!! Ikki itu cowokku! Jadi enggakkkk!!!”
Stella melambai-lambaikan tangannya di air seperti anak kecil yang bermain ciprat-cipratan. Dia tidak mau seseorang mengatakan ‘mencintai’ Ikki selain dirinya. Itulah kenapa, dengan mata lembap, dia menenggelamkan kata-kata Ayase dengan protes dan tatapan tajam ke arahnya.
“Sudah kuduga…”
Melihat Ayase menyengir dengan ekspresi geli, Stella akhirnya menyadari kalau dia baru saja ditipu.
A-Aku mengacau.
“Aku tadinya sempat ragu sama firasatku ini, tapi ternyata benar toh.”
“Ugh… uuu… Kakak, makai metode licik. Kukira kamu itu orangnya bego.”
“Vermillion-san, itu agak kasar.”
“Bisa-bisanya kakak ngomong gitu habis ngerjain aku… pokoknya kakak harus ngejaga rahasia ini! Kalau sampai bocor bakal ribet urusannya.”
 “Aku tahu, soalnya ‘kan Vermillion-san terkenal.”
 “…Tapi, yang tadi kakak bilang itu… cuman bercanda ‘kan?”
Ayase menggangguk tanpa ragu.
 “Aku beneran nganggap dia cowok yang kuat, tapi aku benar-benar gak mandang dia kayak gitu. Itu rasanya bakalan ngianatin kerja keras Kurogane-kun  yang ngajarin aku tanpa pamrih. Aku lebih kayak kagum sama dia… Ahh! Aku iri! Aku juga mau ngerasain jatuh cinta~”
Ayase menyentuh pipinya yang merona dan dengan mata berkilau, seolah dia seperti gadis yang bermimpi indah. Stella merasa sedikit tak terduga  melihatnya seperti itu.
“Kukira kakak benci laki-laki.”
“Itu salah paham yang parah. Aku suka laki-laki kok.”
“Kak. Kakak harusnya gak ngomong kayak gitu di tempat kayak gini. Barusan aja, ada enam orang yang langsung masang ekspresi cerah.”
“Yang jelas, aku gak benci laki-laki. Sebaliknya, aku cuman bingung gimana ngadapin mereka. Makanya aku jadi malu. Teman sekamarku bilang aku kelihatan suram.”
Ini adalah pertama kalinya aku melihat ada orang yang mengatakan itu tanpa keraguan.
“Ahh~ Tapi sayang banget. Aku mau jatuh cinta juga.”
“Terus kenapa enggak nyoba?”
“Mustahil! Benar-benar mustahil! Kalau seorang pemula kayak aku kencan sama cowok… ahh! Baru kupikirin aja itu rasanya bikin malu. Jadi aku muasin diri dengan manga dan novel ringan.”
“Alasannya jelek banget.”
“Btw, apa kalian ngelakuin sesuatu yang nakal pas lagi berdua-duaan aja?”
“Koghku!”
Stella tersedak terhadap pernyataan tiba-tiba itu.
“Aku beneran mau tau rasanya pacaran loh.”
Stella tidak bisa membayangkan Ayase dengan mata berkilaunya berfoto dengan salah seorang gadis media itu. Bayangan Stella terhadap Ayase sebagai gadis kendo kaku seketika hancur berantakan. Gadis di hadapannya tidak berbeda dari gadis-gadis lain, seorang monster dengan ketertarikan sensual dan hubungan percintaan.
“Kita belum ngelakuin hal yang kakak pikirin. Bahkan, aku juga belum ngenalin dia ke  keluargaku jadi kayak begitu itu terlalu cepat.”
“Beneran? Di manga, cewek suka ngelakuin hal-hal nakal sepanjang waktu dan mereka gak daftar ke KUA dulu atau formalitas semacamnya, jadi kukira….”
“Yeah, benar ‘kan? Ngomongin begituan, kita perlu nikah dulu sebelum boleh ngelakuinnya ‘kan?”
Pernyataan Stella itu dapat dibenarkan.
“Tapi dari caramu ngomong, kamu beneran mau ngelakuin ini dan itu dengan Kurogane-kun ‘kan?”
D-Dia benar-benar orang yang blak-blakan. Namun, saat ini setelah Stella melalui semua itu, tidak ada gunanya lagi menyembunyikannya. Dia mungkin akhirnya memiliki kesempatan mencurahkan kegelisahannya. Itulah kenapa, meskipun sedang berada berendam di air, Stella mengungkapkan hasrat terdalamnya.
“I-Itu, aku belum siap sampai sejauh itu… aku mau kita lebih ngelakuin hal yang biasanya dilakuin orang pacaran, dan semacamnya…”
“Terus kenapa kamu gak bilang gitu aja ke dia?”
“… Kalau aku bisa, aku gak akan ngerasa sesakit ini.”
“Kenapa?”
“Maksudku…, kalo cewek nyaranin cowoknya kayak gitu, itu gak pantes ‘kan.”
“Yang benar? Tapi bukannya mesra-mesraan dan ngelakuin hal-hal nakal sama cowokmu itu normal. Malahan, justru aneh kalau kamu enggak ‘kan?”
...Huh?
Setelah Ayase mengatakannya, Stella mengira jika dia benar. Adalah hal yang normal untuk mengekspresikan perasaannya kepada pasangannya dan mempererat hubungan mereka.  Dan itu berlaku baik bagi yang perempuan maupun laki-laki.
“Tapi tetap aja, kurasa kita perlu pelan-pelan… dan kalau aku terlalu maksa, dia mungkin ngira aku ini cewek murahan, dan jadi benci sama aku.”
“Yah anggap aja ada kemajuan biarpun pelan, dan Vermillion-san nyoba ngancurin itu karena terlalu maksa, tapi Kurogane-kun gak mungkin ‘kan hatinya jadi sedingin itu begitu aja?”
“D-Dia gak bakal!”
 “Terus apa masalahnya?”
“I-Itu… huh?”
Seperti yang Ayase katakan. Tidak ada alasan untuk menunda-nuda. Kenapa dia tidak menyadari ini lebih cepat? Stella memiringkan kepalanya sambil memandang Ayase. Apakah ini? Hal yang dimaksud ‘cinta itu buta’ itu?
“Kurasa itu lebih gak pantas kamu ngebuang-buang waktu yang kamu punya dan enggak dihabiskan dengan orang yang kamu cintai. Kita manusia adalah bagian dari ‘kehidupan’, jadi bakal ada waktunya kita berpisah.”
Ayase, menasehati, dengan tatapan seperti orang dewasa, berbicara.
“… Barusan aja… Kakak bersikap kayak senior buat pertama kalinya.”
“Btw, dan ini Cuma tebakanku, tapi kupikir Kurogane-kun juga mau ngelakuin hal-hal nakal dengan Vermillion-san.”
“Kenapa begitu?”
“Vermillion-san ngeliatin kolam renang pas dia masuk jadi dia mungkin gak sadar, tapi pas kamu datang pakai bikini itu, Kurogane-kun mulai ngeliatin Stella-san dengan tatapan super mesun. Tatapannya nafsu banget.”
Astaga… Itu adalah kesalahan yang akan Stella sesali seumur hidupnya. Dia seharusnya menyadari itu. Dia merasa bodoh karena sampai tidak menyadari fakta tersebut.
Selagi Stella dilanda perasaan kecewa itu—
“Huh? Ayase-san sudah capek?”
Ikki, yang tadi pergi mengembalikan bola, telah kembali.
“Enggak. Aku cuman ngobrol-ngobrol dikit sama Vermillion-san.”
“Yang benar? Oh,  jadi gimana? Perasaan yang kamu dapat dari nekan kesadaranmu?”
“Yeah, aku ngerti maksud latihan ini. Jadi mau kuulang sekali lagi. Gak pa-pa aku nyobanya di sebelah sana? Aku perlu ruang buat diri sendiri.”
 “Aku gak keberatan.”
“Juga, kayaknya Stella-san punya sesuatu yang penting yang mau diomongin sama Kurogane-kun.”
“Ap—!?“
Stella memekik keras sampai-sampai tampak dia berteriak terhadap pengumuman tiba-tiba itu. Namun Ayase, dia berkedip sambil mengatakan ‘aku minta maaf karena udah minjam pacar Vermillion-san beberapa hari ini.’, dan dia buru-buru memisahkan jarak dari pasangan itu.
“Aku gak butuh permintaan maaf semacam itu!!!”

Bagian 5    
Setelah Ayase pergi, Ikki dan Stella duduk di bangku yang ada di pinggir kolam.
“Jadi, hal penting apa yang mau kamu omongin?”
“…Erm…”
Stella tidak bisa segera menanggapi itu. Yah, dia tidak bisa apa-apa. Meskipun dia mendapat saran dari Ayase beberapa menit yang lalu, saat itu menyangkut masalah seperti ini dia menjadi ragu.
Kenapa dia mengira kalau dia mengatakan ‘Aku mau lebih banyak ngelakuin hal-hal yang orang pacaran biasa lakuin sama kamu’, Ikki akan membencinya? Kenapa dia tidak menyadari jika Ikki tidak akan membencinya karena sesuatu seperti itu? Stella segera menyadari alasan dia kurang berinisiatif setelah melihat wajah Ikki.
Pada dasarnya, dia merasa malu.
Itulah kenapa dia pura-pura tidak menyadarinya, membuat alasan dan mengutamakan gengsinya. Atau mungkin, dia pikir, mungkin Ikki akan menjadi orang yang pertama bergerak? Sesuatu yang egosentris seperti itu. Meskipun demikian, baginya untuk menjadi yang pertama bergerak dan mengatakan ‘cium aku’ kepada Ikki seperti itu…
Tidak mungkin aku bisa melakukan yang memalukan seperti itu!
“…Stella?”
“Ah, M-Maaf! Pembicaraan penting, ya? Erm…”
Namun selama rute melarikan dirinya di blok oleh Ayase, dia harus mengatakan sesuatu…
“A-Ah, B-Baju renangku! Bikini yang kupakai hari ini, gimana…!?”
“Bagus kok. Itu juga cocok denganmu. Kamu punya selera fesyen yang bagus, dan bikini kayak gitu cocok banget denganmu.”
Ikki dengan lancar menjawab pertanyaan Stella yang dibuat-buat dengan ekspresi ramahnya seperti biasa.
Namun untuk beberapa alasan, itu menganggu Stella. Ayase telah mengatakan saat dia mengenakan bikininya sebelumnya, Ikki membuat ekspresi mesum. Jadi kenapa dia bisa menjawab dengan begitu tenang sekarang? Untuk beberapa alasan, tatapannya terlihat biasa saja.
“…Sebenarnya, aku juga punya satu hal penting yang mau kuomongin.”
“Ikki juga?”
Ini tidak terduga. Apa sebenarnya hal penting itu?
Mungkin dia juga mau meminta pendapat terhadap baju renangnya. Lantas, bagaimana Stella menjawabnya? Bagi Stella, Ikki selalu keren dengan apapun yang dikenakannya, tapi merangkai kesan itu dalam kata-kata bukanlah sesuatu yang bisa dia lakukan dengan mudah-
“Kita… erm… hubungan kita… Apa gak pa-pa kayak gini?”
“Eh…”
“Aku sudah mikirin ini beberapa kali, tapi kita belum ngelakuin hal yang biasanya dilakuin orang pacaran selama sebulan ini ya, dan itu bikin aku gak nyaman.”
Stella merasakan temperatur tubuhnya di area sekitar dadanya menurun lima kali lipat terhadap kata-kata yang keluar dari mulut Ikki.
[Kita belum ngelakuin hal yang biasanya dilakuin orang pacaran selama sebulan ini.]
Itu adalah kata-kata yang Stella takuti. Kalimat yang terlalu dia takuti untuk dipikirkan. Namun saat ini, kekasihnya baru saja mengatakannya. Di waktu yang sama, rasa dingin datang menyelimutinya dan memberinya sebuah penjelasan.
Seperti dugaanku… Ikki tidak puas dengan hubungan kami saat ini.
Namun dia masih mau bertahan. Selama sebulan.
Dia hilang ketertarikan… padaku.
Memikirkannya sekarang, itu sangat jelas. Ikki memiliki Shizuku. Dia juga memiliki seorang murid cantik yang setahun lebih tua darinya. Ada juga gadis-gadis manis lain seperti Kusakabe di kelas mereka. Di sekitar Ikki, ada banyak gadis yang menghargainya. Seharusnya tidak ada alasan untuknya peduli kepada seorang gadis egois sepertinya, yang bahkan tidak mengizinkannya menyentuhnya dalam waktu yang lama.
“…Jadi, aku mau ngomongin soal kita.”
Tidak!
Dia mengerti apa yang akan Ikki katakan—akan jadi lebih baik kalau mereka kembali ke hubungan mereka sebelumnya.
Dia tidak mau mendengar itu. Dia tidak memiliki keinginan lagi untuk bicara dengan Ikki. Dia tidak akan bisa menanggungnya juga dia melanjutkannya.
Jadi Stella—
“A-Aku tahu ‘kan! Sebenarnya aku juga mau ngomongin soal itu bukan soal baju renangku!”
Memutar punggungnya menghadap Ikki, suaranya terus bocor.
“I-Itu jelas ‘kan, ini mustahil buat kita memulainya dari awal! Anggota kerajaan dan seorang orang biasa gak pantas bersama! Statusnya jauh banget! Bahkan Ikki, kamu suka cewek kayak Kak Ayatsuji yang ngebiarin kamu nyentuh paha dan tubuh bagian bawahnya, ‘kan! Dibandingkan cewek kayak aku, yang gak ngebiarin kamu ngelakuin itu.”
“H-Huh? T-Tunggu bentar Stella! Kamu ngomong apa sih sebenarnya?”
“A-Apa yang kamu maksud apa! Putus, ini soal putus ‘kan? Kamu gak butuh cewek yang gak ngebiarin kamu ngelakuin itu sebagai pacar ‘kan?”
 “A-Ap—!?“
Ikki membelalakkan matanya lebar terhadap pernyataan Stella. Baginya, dia benar-benar tidak mengerti omong kosong yang Stella katakan.
“B-Bukan gitu Stella! Tenang dulu dan kita bicarain baik-baik.”
Ikki menjelaskan dengan wajah pucat, dan menyentuh bahu Stella. Dia melakukan itu untuk menenangkan Stella. Namun—
“Jangan sentuh aku!”
Stella menampik tangan Ikki dengan maksud penolakan penuh. Pada momen itu, dia melihat sesuatu yang berkilauan di rambutnya yang nerah membara.
Apa Stella menangis?
Untuk saat ini, Ikki harus mengetahui alasan Stella ingin putus. Kalau dia juga emosi, maka semuanya akan berakhir—itulah yang memaksanya untuk mendengarkan. Namun—
“Kalau aku ngelakuin sesuatu yang ngebuat Stella benci sama aku tolong kasih tau aku apa itu dan aku bakal minta maaf. Kumohon.”
“…Ikki-lah yang ngebenci aku.”
“Itu gak benar! Kenapa kamu mikir gitu? Aku gak pernah bilang sesuatu kayak gitu.”
“Aku tahu itu biarpun kamu gak ada bilang-bilang!”
“Enggak, kamu sama sekali gak ngerti! Tolong tenang dulu!”
“Aku tenang! *Hic*”
 “Jelas-jelas kamu gak tenang! Kenapa kamu bilang aku ngebenci kamu? Bukannya kalau kamu yang ngomong gitu, yang ngebenci aku itu justru kamu sendiri?”
Ikki sangat dibingungkan karena situasi aneh ini. Stella yang dia cintai tiba-tiba ingin putus dengannya, jadi wajar dia tidak tahu apa alasannya. Dia mencintai Stella, dan itulah kenapa dia tidak bisa tetap tenang. Dan meninggikan suaranya, sehingga hampir seperti dia berteriak.
“I-Itu gak benar! Aku masih cinta sama Ikki!”
“Enggak, aku yang cinta kamu.”
“Bohong! Aku yang sangat sangat mencintai Ikkki! Pas kutanyain pendapatmu soal baju renangku, kamu Cuma ngomongin soal penampilan luarku! Kamu gak peduli aku sama sekali ‘kan? Karena aku bahkan gak ngerbiarin kamu nyentuh aku! Mata mesum yang Kak Ayase bilang, itu karena kamu lagi ngeliatin baju renangnya dia!”
“Apa! Sembarangan! Kalau kamu gak berhenti, aku bakal marah juga loh!”
“Bukannya kamu sudah marah, dasar tolol!”
“Soalnya Stella ngebuat tuduhan palsu! Lagian pas cewekku kelihatan menarik dan memikat, gimana caranya aku justru terpikat sama cewek lain?”
“Terus kenapa kamu tenang dan acuh gak acuh pas kutanyain soal bikiniku!”
“Memang, aku acuh gak acuh pas kamu nanyain itu. Tapi… tapi… gak mungkin aku bisa langsung terus terang! Aku tadi itu terangsang dan jantungku juga berdebar gak karuan, sampai-sampai aku gak bisa ngalihin pandanganku darimu! Gimana kalau kamu malah nganggap aku orang mesum, gimana kalau misalnya kamu jadi benci sama aku! Dan kamu juga, walau kamu bilang  kamu cinta sama aku, kamu bahkan gak mau megang tanganku selama sebulan ini!”
“Aku sama kayak Ikki! Gak mungkin ada cewek yang bisa ngomongin keinginannya secara blak-blakan! Gimana kalau kamu ngira aku cewek murahan dan ngecewain kamu!”
“Terus kenapa kita bertengkar kayak gini—“
“Aku gak tahu, aku gak ngerti apa-apa—“
Keduanya saling berteriak tanpa menyadari kalau ada banyak orang di sekitar mereka.
“”……Huh?””
Di waktu yang bersamaan, mereka menyadari kalau perdebatan mereka menjadi sesuatu yang bodoh.
“A-Ah, permisi, mbak-mas. Ada tamu lain juga disini jadi kalau kalian gak keberatan, bisa bawa pertengkaran kekasih… atau mesra-mesraan, aku gak yakin yang mana, ke suatu tempat yang gak banyak orang?”
““——!!!“”
Mereka menjadi tontonan para pengunjung, dan tersipu sampai telinga mereka memerah. Saat mereka memandang sekitar, yang bisa mereka lihat hanyalah tatapan yang terarah kepada mereka, seolah mereka sedang diawasi oleh hewan yang ingin tahu.
“M-Maaf!”
“Kami permisi-!”
Mereka melesat menuju kolam anak-anak sejauh 50 meter, seolah melarikan diri dari paparazzi.
Tidak ada siapa-siapa selain Ikki dan Stella disana. Bahkan juga tidak ada anak-anak disana, karena ini belum musim renang. Mereka memasuki air mancur berbentuk payung yang berada di jantung kolam. Air yang mengalir bertindak seperti tirai jadi bagian interiornya tidak terlihat dari luar, dan juga dibantu dengan suara air yang menenggelamkan suara mereka.
Hanya mereka yang tahu apa yang terjadi disana. Itu tempat yang terisolasi, dan itulah kenapa…
“Ikki, tolong jangan liat kesini sekarang…”
“Okay. Aku juga gak mau mukaku dilihat sekarang, jadi baiklah…”
Untuk beberapa alasan, mereka merasa sangati tidak nyaman. Itu bagus mereka melarikan diri bersama dan juga, sekarang mereka menyadari adu argumen mereka  tadi itu benar-benar bodoh, yang membuat mereka sulit menatap satu sama lain.
…Meskipun demikian—
“Hey… Stella.”
“... What?”
“… Kita berdua, haruskah ngungkapin hal yang paling diinginkan?”
“…’Kay.”
Sebelumnya, itu adalah pertengkaran bodoh, tapi bukan berarti itu tidak berarti.
“”Aku mau ciuman.””
Karena mereka menyadari kalau orang yang mereka cintai juga sangat mencintai mereka. Untuk sesaat, mereka berdua sedikit terkejut, tapi mereka memandang satu sama lain. Itu tidak lagi memalukan, dan mereka tidak memalingkan mata.
*Pikun*
Dan tubuh Stella menegang. Pipi lembutnya dan bulu mata panjangnya diwarnai sedikit kegelisahan. Namun dia tidak melarikan diri. Dia mempercayakan dirinya kepada Ikki. Dan itu membuatnya bahagia, dan merasa sangat dicintai…

Di balik tirai dan suara air yang menciprat, bibir Ikki menekan bibir Stella. Menekan… itu tidak cukup tepat, itu hanya berada pada tingkat dimana keduanya saling bersentuhan.
Namun rasanya lidah mereka seperti terbakar.
Tentu saja. Karena sedikit kecupan pada bibir biasanya dilakukan oleh teman dan keluarga, tapi tetap saja mereka tidak melakukan ciuman mulut ke mulut. Dengan kata lain, hubungan mereka menjadi lebih solid dan jelas daripada sebelumnya. Mereka membuktikan kalau kata-kata yang mereka katakan tidak hanya sekedar kata-kata. Itu adalah bukti nyata pertama sebagai sepasang kekasih sejati.
“…Hey, Ikki.”
“Apa?”
“…Ikki, apa kamu gak suka cewek nakal yang minta dicium?”
“Gak ada cowok yang gak suka cewek kayak gitu. Malahan, apa Stella ngebenci cowok yang ngeliatin kamu dengan mata mesum?”
“Aku benci mereka! Ikki doang yang boleh…”
Sekali lagi mereka maju selangkah, tanpa ada keraguan lagi. Ciuman mereka yang kedua lebih lama, dan lebih bergairah daripada yang pertama.
“Nn…”
Itu berada pada tingkat yang bisa disebut ciuman orang dewasa, tapi dengan nafsu mereka yang hanya diperuntukkan kepada orang mereka cintai.
…Dan jadi, terlepas dari segala kebingungan, hari itu menjadi hari yang tak terlupakan untuk mereka berdua.

Bagian 6
Ketika mereka meninggalkan kolam, matahari telah terbenam. Ketiganya telah merasa lapar, jadi mereka memutuskan untuk makan malam di kota sebelum kembali ke asrama. Ikki bertanya kepada kedua gadis itu apakah mereka ingin makan sesuatu yang spesial, tapi mereka tidak memiliki preferensi jadi dia membimbing mereka ke restoran kelurga terdekat.
Disana, ketiganya memesan yang mereka inginkan. Ikki memesan semangkok mie tepung terigu, Ayase memesan seset makanan ringan, dan untuk Stella, dia memesan empat macam lauk panggang dan tiga steak.
“V-Vermillion-san punya nafsu makan yang luar biasa.”
“…Mau diapain. Soalnya kalau aku gak makan sebanyak ini, tubuhku nantinya gak mau gerak.”
“Meskipun kamu makan sebanyak itu… kenapa kamu punya figur tubuh yang bagus? Untuk suatu alasan, aku jadi ngerasa gak nyaman.”
Stella, yang sadar kalau dia makan terlalu banyak, sedikit tersipu, merasa malu. Tapi tangannya tidak berhenti.
Dia mengunyah dan menelan makanan berkalori ekstra tingginya. Yah, untuk seseorang dengan kekuatan sebanyak itu, Dia membutuhkan bahan bakar dalam kadar cukup.
 Melihat itu, Ayase tersenyum.
“Untuk beberapa alasan, Vermillion-san gak begitu kelihatan kayak tuan putri.”
“Huh? Maksudmu apaan?” kata Stella sambil terus mengunyah.
“Aku gak bermaksud nyinggung kamu tahu. Kayak barusan ini, kamu enak diajak ngobrol, dan caramu makan gak beda jauh dari kita.”
“Yah, aku sudah diajarin table manners, tapi ini bukan tempat untuk nerapinnya, kan?”
Stella mengamati keadaan di dalam restoran yang ramai. Suara berdenting dari peralatan makan, suara para pelanggan dan pelayan yang keluar masuk, suara anak kecil menangis, suara melengking tawa siswa-siswi SMA, semuanya bercampur menjadi satu. Di tempat seperti itu, jika dia menjadi satu-satunya yang bersikap elegan dengan tata krama meja, justru dia yang akan dianggap aneh.
“Kamu harus tahu gimana harus  bersikap tergantung waktu dan tempat. Sama juga kayak ilmu pedang.”
“Ahaha, itu nyucuk loh.”
Ayase tersenyum ceria meskipun ketidakberpengalamannya yang disindir.
“Hari ini… tidak hari ini terlalu produktif . Sejak aku berlatih dengan Kurogane-kun, aku selalu nemu hal baru…. Tapi tetap aja pengalamanku masih belum cukup buat belajar teknik rahasianya ayahku, tapi aku ngerasa semakin dekat dengannya sekarang. Aku gak bisa ngungkapin betapa berterima kasihnya aku ke padamu.”
“Itu semua karena kerja kerasnya Ayatsuji-san sendiri. Lagian, kupikir kamu bakal nyelesaiin masalah itu segera, dan nguasain teknik rahasia itu. Semua yang kulakuin itu cuman ngasih sedikit dorongan, jadi kakak jangan terlalu rendah hati.”
“Enggak… yang sudah kupelajarin, buat aku, itu ngebantu banget.”
“Apa itu karena kakak juga tampil sebagai perwakilan Sekolah di pertandingan seleksi?”
“Yeah. Aku sudah kelas tiga. Ini kesempatan terakhirku di Sword-Art Festival. Makanya aku harus menang, gimanapun caranya. Aku harus masuk ke Festivalnya, dan aku harus ngerebut kembali hal yang penting buatku. Makanya aku butuh kekuatan.”
…Hmm?
Di kedalaman mata Ayase, Ikki merasakan perasaan yang dalam. Itu adalah kemarahan… dan tidak hanya kemarahan normal, malah mendekati niat membunuh, kebencian yang kuat.
——Apa yang begitu mendorongnya sampai-sampai dia…
“Hahaha, lihat ini. Kupikir kamu kelihatan familiar jadi aku penasaran, ternyata bener kalau kamu itu Ayase.”
Untuk sesaat, Ayase terperanjat. Di arah dia melihat, berdiri seorang pria kira-kira setinggi 180 cm dengan rambut urakan yang diwarnai dan mata sanpaku[1] tersembunyi di belakang naungan. Meskipun ini adalah area tidak boleh merokok, dia sedang menghisap rokok dan mengenakan mantel mencolok yang berlebihan. Dari dada telanjangnya, dapat terlihat sebuah tato tengkorak tertawa, dan kedatangan mereka mempengaruhi pelanggan sekitar.
Melihat ciri-ciri ini, Ikki menyadari jika dia bukan orang baik-baik. Dia adalah anggota preman-preman kasar yang Ikki lihat ketika dia memasuki toko.
“Belakangan ini aku gak pernah ngeliat kamu jadi aku penasaran kamu kenapa, tapi aku gak nyangka kita malah ketemu disini. Haha, kebetulan banget, kan.”
“Hey Kuraudo, kamu ngomong apaan?”
“Ke Arcade kuy.”
“Huh! Hey, Ayase-chan. Lama gak ketemu—“
“Aku khawatir karena kamu gak main ke tempatku akhir-akhir ini! Gyahaha.”
Sekitar sepuluh pria tampak seperti penjahat datang dan berkumpul di meja Ikki di belakang pria bertato tengkorak. Tampak seperti mereka berkenalan dengan Ayase, tapi Ayase bahkan tidak mau melihat mereka… Dia hanya menggigit bibir bawahnya sekeras mungkin seolah dia dirasuki sesuatu.
Melihatnya seperti itu, Ikki memutuskan untuk bertindak.
“Maaf tapi apa kalian bisa pergi? Temanku kayaknya ngerasa terganggu.”
“Huh!? Memangnya kamu siapa!?”
“Ngomong apa kamu bangsat? Kubunuh kamu!”
Meskipun mereka menang jumlah, Ikki tidak peduli. Ikki tahu hanya ada satu pria yang pantas dilawan. Dia melihat ke arah pria bertato tengkorak bernama Kuraudo.
Setelah dia melakukan itu, Kuraudo menanyakan pertanyaan aneh kepadanya sambil mengerling.
“…Kamu, Kamu pendekar pedang?”
“Kamu tahu?”
“Hah, mungkin. Soalnya kamu punya semacam aura aneh.”
Sambil mengatakan itu, dia mengangkat botol bir dan gelas kaca dari meja.
“Maaf soal ini bro, nganggu kamu pas lagi makan. Aku cuman kesini buat nyapa karena aku ngeliat orang yang kukenal.”
Dia menuangkan bir dan menaruhnya di depan Ikki.
“Maafin aku, jadi tolong terima, ya.”
“Ah, okelah kalau gitu.”
Dia ingin mengatakan jika itu bukan bir milik Kuraudo, tapi itu tidak akan bijak bersikap agresif kepadanya. Ikki mengulurkan tangan untuk menerima bir yang Kuraudo tawarkan.
“Ikki!”
“Kurogane-kun!”
Si kepala-tengkorak menghantamkan bir itu ke bagian belakang kepala Ikki.

Bagian 7
Pelanggan yang lain mendadak menjerit. Botol itu dihantamkan dan pecahan-pecahannya berterbangan. Botol itu baru saja dihantamkan ke kepala Ikki dengan kekuatan yang keras sampai-sampai mampu membengkokan dan membelah meja.
“HAHA! Seorang pendekar pedang gak boleh lengah tolol!”
“AHAHA, mantap!”
“Seperti yang diharapkan dari Kuraudo-san, rasain tuh bangsat!”
“Jangan bangun dan lihat aja!” 
Terhadap kekerasan yang dilakukan oleh pria bertato tengkorak, kroco-kroconya menyoraki perbuatannya.
“Makasih, makasih. Kamu lihat, aku suka ngancurin pendekar pedang bangsat kayak kamu sampai berkeping-keping. Sekarang, ayo kita lakuin ini. Kamu juga punya ‘kan? Device!”
Pria itu mengeluarkan nodachi[2[ berwarna putih tulang berkilau yang berbentuk seperti gergaji. Itu adalah Device-nya.
“Bajingan ini! Kuharap kamu siap dibakar menjadi abu.”
Melihat Ikki terluka, api yang berpijar segera menyala di rambut Stella yang membara selagi dia meluapkan kemarahannya. Dia hendak mengeluarkan Leavateinn-nya. Namun—
“Berhenti, Stella.”
Dia dihentikan oleh Ikki. Ikki berdiri seolah tidak ada yang terjadi.
“…Gak perlu ada perkelahian. Lagian tangannya sedikit terpeleset doang.”
Dia berkata kepada Stella dengan sebuah senyuman sementara darah menetes di dahinya.
“K-Kamu ngomong apaan!?”
“Dan aku sedikit tergores dan ngebuat bajuku basah. Gak perlu ada keributan, ya.”
Ikki mengendalikan Stella sambil mengatakan itu. Jika dia mengeluarkan Device-nya dan memulai pertarungan, itu tidak akan berakhir dengan hanya didispen. Itu jelas akan membuatnya dikeluarkan. Itulah kenapa Ikki menghentikannya. Namun…
“””BU-BUAHAHAHAHAHAHAHAHAHA—HAHAH—HAHAHAHA!!!”””
Kelihatannya rekan-rekan si pria bertato mengira tindakannya pengecut dan mulai menghinanya dengan menudingnya.
 “Hey, hey, hey, yang benar aja! Dia gak ngebalas padahal kepalanya habis dipukul!”
“Yah aku tahu Kuraudo-san itu seram, tapi itu cupu banget.”
“Kyahahaha, jangan lagi, aduh ngakak, payah banget~”
“Haha! Ini mengejutkan. Dia ini penakut padahal dia seorang pendekar pedang. Cowok macam apa dia ini?”
Pria bertato tengkorak menghujat Ikki dengan hinaan dan tawa terbahak-bahak. Namun Ikki tidak membalasnya dan hanya menunjukkan senyum membosankan. Melihat itu, Kuraudo meludah.
“-!”
Karena itu, kemarahan Stella memuncak kembali tapi Ikki segera menenangkannya. Bahkan dengan perlakuan seperti itu, Ikki tetap sabar, jadi pria bertato tengkorak menunjukkan senyum membosankan.
“Hah, ini bosenin. Kalau aku ngelawan pengecut kayak kamu, itu malah jadi kekalahanku. Ayo semua, kita pergi.”
Mengatakan itu, dia menuju pintu keluar.
“Dadah, pengecut!”
“Ini bagus ‘kan? Kuraudo gak ngebully orang lemah.”
“Betul tuh, betul. Kamu harusnya bersyukur karena kamu lemah. Ahahaha.”
Setelah mereka pergi, seorang pria yang kelihatannya manajer restoran berlari menghampiri Ikki. Dia membungkuk ke Ikki seraya berkeringat gila-gilaan.
“Aku minta maaf pelanggan terhormat. Kamu tidak apa-pa? Apa perlu kupanggilkan ambulan?”
“Aaa, aku gak pa-pa kok. Malah, apa kalian punya kotak P3K? Aku perlu ngerbersihin ini jadi boleh aku pinjam?”
“Y-Ya. Tolong tunggu sebentar.”
Ditanyakan oleh Ikki, si manajar langsung membawakan kotak P3K dari ruangan kru. Para pekerja yang lain berusaha menenangkan para pelanggan. Untuk saat ini, situasi ini telah ditangani dengan keributan minimal. Ikki mengonfirmasi itu sambil menyeka ludah di wajahnya.
“… Anu, mukamu lebih merah dari yang sebelumnya, Stella.”
Ikki memberitahu Stella, yang mengembungkan pipinya seperti balon.
“Jelaslah aku marah! Dikata-katain sama sampah itu! Dan Ikki, kamu sengaja gak ngindar dari bir itu, kan?  Alasannya apa?”
“Kalau aku salah nanganinnya, dia mungkin bakal jadi lebih marah… dan aku gak mungkin bisa memulai pertarungan di tempat kayak gini, ‘kan?”
“Yah… itu ada benarnya tapi… Ikki bisa ngurus sampah itu bahkan tanpa makai Intetsu ‘kan?”
“Sekarang, aku ragu soal itu.”
“Maksudmu?”
“Cowok bertato tengkorak itu lumayan kuat loh. Seorang musuh yang kuat dilawan dengan tangan kosong.”
“Yah, memang itu bakal sulit. Lagian di Festival tahun lalu, dia itu ditetapkan sebagai peringkat delapan terbaik♪.”
Ikki dan Stella syok saat seorang anak laki-laki dengan suara gemilang tiba-tiba masuk ke dalam percakapan mereka.
Kenapa mereka sangat terkejut? Itu karena pemiliki suara itu muncul dari meja dengan pecahan piring yang berserakan tanpa hawa kehadiran atau bayangan, hampir seperti film lain yang tiba-tiba tayang di film yang sedang diputar.
Rambut berwarna sliver samar-samar dan mata emas tanpa adanya tanda-tanda cahaya. Anak laki-laki itu berbicara kepada Ikki dengan sebuah senyum kaku yang cocok dengan wajahnya.
“Ahaha Iyaa~ benar-benar malapetaka, benar-benar bencana! Sial banget kalian ketemu kartu asnya Akademi Donrou, si ‘Sword Eater’ Kurashiki Kuraudo, seorang anjing pemburu yang melahap siapa saja yang ada di depannya… Tapi keputusanmu tepat, Worst One.”
“Kusukusu… Eeh, iya. Kamu benar.”
Di momen berikutnya, ada orang lain lagi muncul, tapi yang satu ini memiliki sebuah aura yang sangat mencolok. Meskipun berada di dalam restoran, dia membawa sebuah payung, dan mengenakan sebuah topi dengan lubang yang kebesaran. Mata wanita itu tidak dapat terlihat karena tertutup topi itu, tapi garis dagunya dapat terlihat jelas dan rambut pirang berkilaunya, sosoknya tampak aneh. Dia mengenakan sebuah gaun seputih bola mota, seperti wanita terhormat, yang terlihat mencolok di mata mereka.
Meskipun dia memiliki sosok yang putih bersih, baik Ikki dan Stella 
Dan kenapa bisa begitu? Ikki mengetahui jawabannya. Dalam kehadirannya,  merasakan perasaan jijik yang tak terdandingi. Apa yang dikenakannya adalah pakaian serba putih, meskipun demikian, kehadirannya untuk sesaat, berbau seperti darah segar.
Dan kenapa bisa begitu? Ikki mengetahui jawabannya. Dalam kehadirannya, ada tabir berbau darah yang mungkin disembunyikan olehnya sebanyak parfum yang dia gunakan…. Tidak ada kesalahan, orang ini pembawa masalah.
“Kalau kalian mau ngebalas dia, maka disini, saat ini juga, kami gak punya pilihan selain menahan kalian.”
Wanita berpakaian putih dengan bau kematian dan darah membalas dengan bahasa jepang yang aneh sehingga hampir seolah dia sedang bernyanyi. Itu sangat  tidak menyenangkan bagi Stella yang telah menurunkan pertahanannya. Kemudian, dia bertanya kepada Ikki dengan suara kecil—
“Ikki, orang-orang ini siapa? …Apa mereka sebenarnya?”
“Wakil presiden dewan siswa Akademi Hagun, Misogi Utakata-san, dan bendahara Toutokubara Kanata-san.”
“Toutokubara! Kamu…?”
Itu adalah nama yang sering Stella dengar dari rumor-rumor yang beredar.
Toutokubara Kanata, alias ‘Scharlach Frau’. Dia menempati urutan kedua dalam peringkat Sekolah dan merupakan seorang kesatria Rank B. Sambil menjadi seorang siswi, dia dipanggil di bawah perintah dan diizinkan untuk bertarung dalam pertarungan sebenarnya. Dia memegang rekor menghancurkan banyak organisasi dan basis tentara pemberontak. Dia jelas murid superior sekaligus kesatria dengan pengalaman pertarungan nyata.
“Kayaknya gak perlu deh ngenalin diri kita… tapi tetap aja, cara Kurogane-kun nanganin situasi itu terlalu brilian. Sword Eater itu orang yang nyerang murid-murid dari Sekolah lain tanpa peringatan, dan keliling kota buat ngancurin dojo-dojo yang dia temuin. Dalam beberapa kasus, dia juga suka nyari masalah. Sekali lagi, kami ngucapin terima kasih kepadamu. Kelihatanya kami terlalu ngeremehin kamu.”
“Kelihatannya bukan karena kebetulan Renren kalah dari kamu. Kemampuanmu yang ngeliat karakter seseorang dalam pertarungan, sama kayak yang Yaksha-hime bilang. Kita perlu lebih mempertegas pengakuan kami padamu.”
“Ahaha. Jelas… Oke, tolong tunjukkin lukamu. Biar kuobatin.”
“Gak usah, aku gak mau ngerepotin.”
“Gak pa-pa, gak pa-pa♪. Serahin sama seniormu ini. Rasa sakit, rasa sakit pergilah~!”
Seraya mengatakan itu, Utakata menyentuh luka Ikki.
“Okay, dah sembuh.”
Kulit yang robek dan pendarahan dalam langsung sembuh seketika.
“Ap—!“
Ikki sangat terkejut.
Memang, lukanya dangkal. Dia tidak menghindar dan itu menyebabkan kerusakan yang besar, tapi beruntung itu tidak menyentuh sum-sum tulangnya. Itu bisa disebut luka dari ‘kekerasan’. Bahkan Shizuku, yang memiliki kendali sihir Rank-A, akan memerlukan waktu lebih banyak untuk menyembuhkannya.
Misogi Utakata, nama panggilan ‘Fifty Fifity’. Sebenarnya apa kemampuannya? Yang jelas itu sesuatu yang abnormal. Namun…
“Ahaha, jangan natap aku dengan ekspresi seram gitu dong. Lagian aku gak masuk pertandingan seleksi loh.”
 “Ah, maaf. Padahal kamu sudah nyembuhin aku, tapi sikapku malah kurang ajar.”
“Ahaha. Gak pa-pa kok. Justru itu yang ngebikin kamu seorang kesatria. Oke, karena kita udah selesai nyembuhin kamu kami bakal pergi sekarang. Kuy, Kanata.”
“Baik, wakil presiden.”
“Kalian juga. Jangan keluyuran malam-malam, ya.”
Dan dengan itu, Misogi Utakata dan Toutokubara Kanta pergi.
Dengan kepergian mereka, Ikki menghela nafas, merasakan rasa kelelahan melandanya selagi langit menjadi senja di luar jendela.
… Bencana di hari senja… frasa yang cocok, ya.
Mereka bertemu dengan orang terkenal hari demi hari. Meskipun demikian, dia tidak bisa menghilangkan aura mereka yang baru saja pergi. Bagi Ikki, ada hal yang lebih penting yang membuatnya tertarik.
“…Hey, Ayatsuji-san.”
“!”
Ayase mungkin menyadari jika itu akan menjadi percakapan. Dia memalingkan matanya dengan ekspresi tidak menyenangkan. Namun, Ikki tetap menanyainya.
“Sebenarnya apa hubunganmu sama orang-orang tadi.”
Kelompok lain mengetahui namanya. Ayase bukanlah seseorang terkenal yang muncul di media. Itu berarti mereka memiliki hubungan pribadi. Namun dari tatapannya, itu bukanlah hubungan yang baik Itu jelas sekali setelah melihat tatapan tersebut. Jadi—
“Gak usah kamu jawab kalau kamu memang gak mau. Tapi… pas mereka manggil kamu, Ayatsuji-san tingkahnya aneh banget. Kalau kamu terlibat dalam suatu masalah dengan orang-orang  itu, aku bakal ngebantu.”
Sebagai seorang teman, Ikki berada dalam posisi untuk menolongnya. Mendengar Ikki mengatakan itu, ekspresinya sedikit melembut dan mencoba untuk membalas.
“…Itu…”
Pada momen itu, datapad murid berbunyi, menandakan ada sebuah pesan yang baru saja masuk. Suara itu berasal dari saku Ayase dan Ikki secara bersamaan. Ikki penasaran siapa yang mengirimnya. Ternyata itu dari komite eksekutif pertandingan seleksi.
… Perasaannya tidak enak. Ketakutan terbesarnya dikonfirmasi setelah dia membaca pesan tersebut.
“Lawan pertandingan seleksi kesepuluh bagi kontestan Kurogane Ikki telah ditentukan: tahun ketiga kelas satu kontestan Ayatsuji Ayase.”
… Waktu yang tepat sekali.
Tentu saja, pesan yang diterima Ayase juga sama. Melihat ke arahnya, Ikki dapat merasakan darah mengalir dari wajahnya.
“Ini, a-ah, maaf! Teman sekamarku, a-aku dapat pesan dari teman sekamarku yang nyuruh aku balik secepatnya. Aku permisi, ya.”
Wajahnya menjadi pucat. Apa yang dikatakannya adalah kebohongan. Itu adalah notifikasi pertandingan, dan itu membuat suasana menjadi canggung.
“Yeah, kalau gitu sampai jumpa besok.”
Menebak itu, Ikki tidak menahan Ayase. Dia penasaran mengenai hubungan antara Ayase dengan Kuraudo, tapi itu bukanlah sesuatu yang harus dibahas dengan Ayase sekarang. Perasaan canggung ini tidak kunjung surut, dan dia bisa bertanya mengenai hal itu nanti.
“…Yeah… besok, ya.”
Mengambil barang-barangnya dari meja, Ayase pergi dengan tergesa-gesa, seolah dia sedang melarikan diri dari Ikki dan Ayase.
“Sikapnya aneh. Memangnya ada apa?”
Ikki menunjukkan pesan itu kepada Stella yang tidak memahami situasinya.
“…Yah sayang banget…”
“Ini mungkin yang disebut ironi takdir. Kalau aku punya pilihan, aku gak mau ngelawan dia.”
“Btw, dia pernah bilang kalau dia ikut bertanding karena pingin ngerebut sesuatu yang penting baginya, kan?”
“Yeah.”
“Kamu gak bakal kalah dengan sengaja ‘kan?”
“Apa aku kelihatan kayak orang yang kayak gitu?”
Stella menatapnya perlahan untuk mencari jawaban.
“Enggak. Maaf, pertanyaanku itu bodoh banget.”
Itu benar. Ikki tidak akan melakukan itu. Meskipun lawan yang dihadapinya adalah Stella, atau Shizuku atau seseorang yang dekat dengannya, dia akan bertarung dengan adil. Itu adalah kode etik seorang kesatria. Namun pada akhirnya, dia lebih suka menghindari pertarungan dengan Ayase.
…Dia bilang akan menemuinya besok, Ayatsuji-san kemungkinan besar tidak akan muncul untuk latihan sementara waktu.
Tebakannya akurat. Sejak hari itu, Ayase tidak pernah lagi datang menemui Ikki.

Bagian 8
“Tapi beneran, tuh orang lumayan juga, ya.”
“Haha, kayaknya itu yang kita sebut serangga lemah.”
“Dia tetap nahan diri padahal sudah dikata-katain, pa~yah.”
“Itu gak benar, Misato. Gak sok jagoan dengan Kuraudo-san itu hal bijak untuk dilakuin, ‘kan?”
“Kuhaha. Benar, benar. Itu hal natural bagi seseorang ngindarin pertarungan yang gak bisa mereka menangin.”
Di tempat yang tampak seperti markas mereka, sekelompok geng pemuda menyerapah sambil menghisap rokok. Topiknya? Pemandangan memalukan seorang pria yang mereka lihat di restoran keluarga.
“…Haha, kalian pikir gitu?”
Tidak jauh dari mereka, Kuraudo sedang meminum alkohol sambil menatap sinar bulan yang menyelip dari celah atap.
“Iya dong. Si cowok cupu itu kicep pas berhadapan sama kamu Kuraudo.”
“Betul tuh. Dia pengecut, dia bahkan gak pantas jadi lawan. Mungkin aku aja bisa ngalahin dia dengan satu tanganku diikat di belakang.”
“Gyahaha.”
Mereka lanjut tertawa terbahak-bahak.
“Haha.”
Melihat mereka seperti itu, Kuraudo sekali lagi mendongak ke arah bulan.
…Bodoh. Kalian tidak tahu apa-apa.
Dia masih mengingat tatapan Ikki kepadanya. Tidak ada tanda-tanda rasa takut atau gugup disana. Yang ada hanyalah ketenangan seperti air mengalir. Cara dia menangani situasi itu dengan masalah minimal adalah satu-satunya hal yang Ikki pikirkan. Fakta dia menerima serangan Kuraudo itu adalah bagian dari rencananya. Dia adalah tipe orang dengan aura yang luar biasa. Tidaklah mungkin  dia tidak bisa menghindari serangan dadakan itu dengan refleknya.
“Si bangsat itu. Padahal dia udah kuprovokasi kayak tadi dia masih diam aja. Hahaha.”
Yah, itu tidak masalah. Seorang sepertinya jelas tidak akan kesulitan mencapai Seven Stars Sword-Festival.
Akan kuhancurkan bajingan itu, tunggu saja.
Kuraudo menenggak alkoholnya, sementara jantungnya berdegup kencang sebagai antisipasi terhadap perlawanan yang akan datang dari seseorang yang berbahaya sekaligus kuat yang sudah lama tidak dia jumpai.

Bagian 9
Saat itu sudah tiga hari Ayase tidak berlatih bersama mereka lagi. Dia bahkan tidak muncul meskipun di keesokan harinya dia akan bertanding. Terhadap fakta itu, Stella menghela nafas bosan.
“Ujung-ujungnya, dia tetap gak datang-datang…”
“Astaga. Bukannya itu bagus bagi Stella-san? Sebelumnya kamu cemburu sama Kak Ayatsuji gara-gara dia ngegangguin waktu luangnya Onii-sama terus ‘kan?”
“…Diam. Ini adalah ini dan itu adalah itu. Pas dia gak disini, aku kayak ngerasa sepi gitu.”
“Kamu ini orangnya egois, ya… tapi mungkin itu salah kelebihanmu.”
“Kamu ngomong sesuatu?”
“Kakimu gemuk.”
“MANA ADA!”
Ikki memandang Stella dan adiknya yang sedang mengobrolkan hal-hal yang biasa mereka bahas sambil bertanya-tanya apakah sebenarnya hubungan mereka baik atau buruk. Dia membawa Notebooknya di tangannya.
Arisuin menghampiri Ikki.
“Dia belum ada ngubungin sama sekali?”
“…Iya.”
“Beneran?””
Ikki mendongak dan melihat ke arah Arisuin. Arisuin memasang senyuman menenangkannya yang biasa, tapi matanya tampak seperti dia sedang mencari-cari sesuatu.
“…Kenapa kamu jadi ragu?”
“Apa alasan karena aku kuatir cukup? Aku gak ngerti beberapa hal tapi Ayase-san cukup jelas soal cara-cara dia buat mencapai tujuannya. Makanya dia bilang dia mesti tampil di Festival. Makanya juga dia gak boleh kalah dalam pertandingan ngelawan Ikki besok.”
Jumlah peserta yang akan terpilih di festival adalah sebanyak enam orang. Menurut guru homeroom mereka Oreki-sensei, setiap murid akan mendapat kira-kira 12 pertandingan. Dengan demikian, mereka baru bisa lolos jika mereka menang beruntun sepanjang 12 pertandingan itu. Dengan kata lain, akan lebih baik beranggapan bahwa jika satu kekalahan saja akan menutup kans mereka.
“Tapi dalam pertarungan normal, dia itu susah kalau mau menang. Ya Jelas. Perbedaan dalam kekuatannya itu jauh banget. Dia tahu yang terbaik, sudah diajarin sama kamu. Makanya sebelum itu, dia pasti bakalan nyiapin rencana supaya bisa menang. Apa aku salah?”
“Intuisi Alice benar-benar tajam, ya.”
Ikki mengangkat bahu, dan menyerahkan Notebooknya kepada Arisuin. Ada sebuah pesan masuk yang ditampilkan disana. Pengirimnya, Ayatsuji Ayase.
[Ada yang mau kuomongin sama Kurogane-kun. Aku mau minjam kekuatanmu. Besok jam 3 pagi. Temui aku di atap bangunan utama Sekolah.”
“Aku nerima ini tadi pagi.”
“Kayaknya jebakan… menurutku.”
“Ahaha… jelaslah. Tapi ini bukan jebakan.”
“Kamu yakin?”
“Soalnya aku percaya sama dia. Ayatsuji-san gak mungkin ngelakuin suatu hal yang licik. Aku baru ngelatih dia beberapa hari, tapi aku sudah ngenal dia kira-kira sampai titik itu.”
Bagi Ikki, Ayase hanyalah seseorang yang terlalu serius, pekerja keras, dan orang yang jujur. Selain itu—
“Dia bilang dia suka tanganku.”
Dia mengatakan itu kepada orang yang tangannya seperti tangan buruh, kasar dan tangguh. Dia, yang bisa menghormati kerja keras orang lain sampai sejauh itu, tentu tidak akan melakukan sesuatu yang lcik dalam sebuah pertandingan antar sesama kesatria.
“Makanya aku harus ketemu sama dia.”
Ayase adalah seorang teman yang penting. Dan temannya ingin berkonsultasi dengannya. Dia tidak mungkin bisa menolak itu. Ikki menegaskannya. Termasuk juga Arisuin—
“Kamu menyilaukan.”
Sambil tersenyum pahit, Arisuin mengulurkan tangannya ke arah Ikki, yang sangat dekat dengannya…. Namun matanya menyiratkan jika Ikki sangat jauh, seolah tangannya tidak bisa mencapainya.
“Menyilaukan?”
 “Ya, banget. Sampai ke titik ngebuat aku cemburu. Orang kayak Stella-chan dan Shizuku yang bisa cinta dengan seseorang sepenuh hati, dan Ikki yang bisa percaya sama seseorang dengan jujur… Ngeliat kalian, ngingatin betapa buruknya aku ini. Kalau aku, aku gak bisa percaya sama seseorang segampang itu.”
Namun setelah itu, Arisuin membuat ekspresi serius tidak seperti biasanya dan memberikan Ikki beberapa saran.
“Tapi karena itu aku sadar beberapa hal gak bisa dipercaya… Ini mungkin akunya yang terlalu sok tahu tapi buat jaga-jaga, Ikki mesti punya tekad buat mutusin hubungan dengan dia. Sebelum kamu ngelepas topeng manusia, kamu gak bakal tahu kebohongan apa yang tersembuyi di baliknya. Kalau kamu nanganin situasi dengan enteng, kamu mungkin gak bisa menangin pertandingan yang harusnya sudah pasti bisa kamu menangin. Kayak yang terjadi sama The Hunter.”
“Sekarang kalau kupikir-pikir, Alice juga yang yang ngasih aku saran sebelumnya, ‘kan? Tapi tenang aja. Aku sudah memutuskan apa yang paling penting bagiku.”
Mengatakan itu, Ikki mengerling kepada Stella yang masih berdebat dengan Shizuku.
“Aku gak bermaksud buat ngancurin janjiku ke dia. Gak peduli apapun yang terjadi.”
“Fufu. Kayaknya ini bukan sesuatu yang mesti kuatirin. Maaf ya, aku ngomong sesuatu yang aneh.”
 “Itu gak aneh…. Tapi soal kasusnya Kirihara-kun, dan bahkan kali ini, aku benar-benar gak suka kalau seorang teman dekatku yang selalu ngasih aku saran ngatain dirinya buruk.  Bahkan kalau itu Alice, kamu sendiri.”
Untuk sesaat, Arisuin menunjukkan eskpresi bermasalah. Namun dia segera melenyapkannya.
“Fufu, ngomong sesuatu yang keren kayak gitu… bisa-bisa aku jadi suka sama kamu loh.”
“Tolong, gendermu itu satu-satunya yang lucu disini.”
Arisuin membalas dengan pernyataan bodohnya, jadi Ikki membalasnya dengan cara yang sama. Dia tidak mau memperpanjang obrolan ini lagi. Bahkan jika dia mencoba bertanya lagi, Arisuin mungkiin tidak akan mau berbicara lagi. Itulah kenapa… dia berkonsentrasi kepada hal terpenting saat ini.
Dia melihat ke arah atap yang diselimuti warna merah matahari terbenam. Besok, Ayase akan menunggunya disana.
Aku penasaran apakah aku benar-benar bisa membantunya…?

Bagian 10
Sepuluh menit sebelum waktu pertemuan, Ikki meninggalkan kamarnya, berhati-hati supaya Stella tidak terbangun. Dia melintasi koridor tanpa membuat suara sedikitpun, dan sampai di luar. Menggunakan cahaya rembulan sebagai pemandu, dia menuju ke bangunan Sekolah. Selagi dia dalam perjalanan kesana, suara derap kakinya menggema.
Biasanya, tempat itu adalah tempat yang ramai, tapi sekarang, seperti kuburan, sangat sepi. Ikki menuju ke atap, sambil berusaha melawan nuansa seram di sekitarnya yang hampir membuatnya merinding.
Dia menaiki anak tangga satu-persatu, dan akhirnya berdiri di depan pintu besi yang menuju ke  atap. Kemudian, dia membukanya.
Desau angin menyambutnya, dan dia bermandikan cahaya rembulan yang bersinar pucat.
Sebuah adegan hambar terlintas di benaknya. Sebuah lantai beton dan pagar baja kokoh yang merusak indahnya cakrawala malam. Sebuah pemandangan yang dingin.
Angin berhembus, cahaya rembulan yang redup, meskipun ini baru awal musim panas, dia menggigil. Dan di tengah-tengah pemandangan itu, dengan punggungnya membelakangi pagar, adalah Ayatsuji Ayase yang memakai yukata.
“Hey, aku gak pernah ngeliat kamu lagi sejak di kolam renang, Ayatsuji-san.”
“Yeah… meski sebenarnya aku yang manggil kamu kesini, maaf soal itu.”
…Hmm?
Ayase, yang memasang wajah minta maaf, tampak sedikit tidak nyaman dengan adanya Ikki untuk sesaat.
Tatapannya kepada Ikki tampak kering.
Seolah-olah matanya adalah bola kaca palsu.
Dia telah terbiasa dengan Ikki baru-baru ini, dan Ayase tidak harus memalingkan matanya dalam setiap kesempatan sekarang. Namun hari itu di kolam renang, saat Ikki mulai berbicara dengannya, tatapannya juga terasa kering. Yah, itu mungkin hal yang alami bagi seseorang yang tidak pernah berbicara dengan lawan jenis.
Namun untuk beberapa alasan, tatapan Ayase hari ini membuat Ikki tidak nyaman.

Apakah dia tipe wanita yang bisa melihat lurus ke arahku dengan begitu tenang di malam yang sepi?
…Namun meskipun ini terasa tidak nyaman, ini hanya terasa sedikit saja. Jadi ini bukanlah sesuatu yang membuat Ikki harus bertanya padanya maksud tatapannya. Itu bukanlah alasan dia datang kesini hari ini.
“Santai aja. Lagian habis pesan itu, keadaanya jadi terasa asam.”
“Yeah, percuma aja ngomongin itu… dan juga, kamu datang sendirian, sesuai yang kuminta. Makasih. Tapi apa benar-benar gak pa-pa kamu ninggalin cewekmu dan datang kesini malam-malam begini?”
“Aah, jadi kamu sadar, ya. Tolong jangan kasih tahu Stella soal ini. Bisa-bisa dia ngebelah aku jadi dua kalau dia sampai tahu.”
“….Jadi, apa yang mau kamu omongin?”
“—--“
Ayase bungkam. Apakah dia ragu-ragu untuk bicara? Atau adakah alasan lain? Ikki tidak bisa menebak alasannya, karena dia tidak bisa membaca Ayase dari bola matanya yang hampir palsu.
Namun tidak akan ada yang terjadi jika kesunyian berlanjut seperti ini.
“Kalau kamu gak mau ngomong, boleh aku nanya sesuatu?”
Ikki membuka mulutnya. Sedangkan Ayase tidak. Kali ini, dia menerima reaksinya sebagai persetujuan dan bertanya sekali lagi.
“Ngelanjutin dari obrolan terakhir kita, apa si Kuraudo yang ngambil sesuatu yang penting bagi Ayatsuji-san?”
Ikki melihat Ayase memicingkan mata.
“…Kenapa kamu mikir begitu?”
“Cuma nebak. Pas makan siang hari itu, pas Ayatsuji-san bilang ‘aku bakal ngambil lagi hal yang penting bagiku’, kamu ngeluarin niat membunuh yang luar biasa. Dan hal itu kamu lakuin lagi pas Kuraudo muncul.”
Ayase menundukkan kepalanya seraya menggigit bibir. Ikki menyimpulkan jika Ayase sedang melakukan kembali apa yang dia rasakan saat makan siang, niat membunuh.
“Dan Ayatsuji-san bilang dia harus tampil di Festival kalau mau dapatin keinginannya. Dengan kata lain, kamu harus ngelawan seseorang yang juga bakal tampil disana. Sword Eater itu tahun lalu dapat peringkat delapan. Jadi selama Donrou gak makai sistem unik kayak Hagun, dia otomatis sudah dapat tempat disana. Dari dua poin ini, orang yang Ayatsuji-san mau lawan, itu seseorang yang ngerebut sesuatu yang penting bagimu, dan orang itu si Sword Eater, Kurashiki Kuraudo. Apa aku salah?”
Ikki mencoba memastikan kecurigaannya. Dan—
“Fufu, sesuai dugaanku. Kurogane-kun ngerti segalanya. Karena kamu sudah sampai sejauh ini, aku ngerasa gak enak nyembunyiinya lagi.”
Tebakan Ikki sangat akurat.
“Hey, Kurogane-kun. Alasan aku manggil kamu kesini hari ini itu karena aku mau nanyain sesuatu ke kamu.”
“…Nanyain aku sesuatu?”
“Yeah. Aku dengar ini dari Vermillion-san di kolam renang. Apa Kurogane-kun janji bakal ngelawan dia di babak penentuan di festival?”
“Iya, memang benar, itu kalau aku bisa sampai kesana.”
“Tapi sebelum itu terjadi, Kurogane-kun bakal gimana kalau misalnya kamu ngelawan seseorang yang jelas-jelas gak bisa kamu kalahin?”
“…?”
Ikki tidak mengerti maksud pertanyaan itu. Kenapa Ayase ingin tahu mengenai dirinya dan Stella? Namun tiba-tiba, dia mengerti jika pertanyaan itu juga berlaku untuk Ayase sendiri. Bagi Ikki hal itu adalah janji, sedangkan bagi Ayase itu untuk merebut kembali hal yang penting.
Meskipun memiliki alasan yang bertentangan, tujuan mereka sama. Apa jangan-jangan dia bertanya kepada orang lain untuk memastikan situasinya?
Ikki tidak bisa memahaminya. Namun dia telah memutuskan membalasnya dengan—
“Aku bakal bertarung dengan semua yang kupunya secara jujur dan adil.”
“Kalau kamu kalah?”
“Kamu gak bakal tahu sampai dicoba… Bahkan kalau seandainya aku kalah, aku gak bakal berhenti sampai aku ngerahin semua yang aku punya.”
Dalam pertandingan antara dia melawan The Hunter, Ikki hampir menyerah, tapi karena Stella, dia bangkit kembali. Luka seperti apapun yang dia dapat dari lawan-lawannya bisa disembuhkan. Itulah kenapa bahkan jika dia kalah, Ikki akan bertarung dengan semua yang dia miliki; cukup sampai dia bisa membanggakan dirinya sendiri. Ikki tidak akan pernah mengalami hal itu lagi. Akan tetapi—
“Kalau aku sih gak mikir kayak gitu. Percuma bertarung dengan jujur dan adil kalau ujung-ujungnya gak menang.”
Mengatakan itu, Ikki menerima tatapan sedingin es dari Ayase.
“Eh..”
Sangat tidak terduga mendengar hal itu dari Ayase. Ikki menelan ludah.
Dia tidak… Ikki tidak mengira akan mendengar kata-kata seperti ‘apapun asalkan aku menang’ dari Ayase.
…Kenapa, kenapa dia begitu.
Ayase yang Ikki kenal tidak akan mengatakan hal itu, jadi saat dia mendengar hal itu dia tidak bisa membalasnya. Namun… bahkan jika dia tidak bisa membalas, dia menyadari. Dibawah mata dingin Ayase, bibirnya  berputar menjadi senyum menghina. Sebuah ekspresi yang tidak pernah Ikki kira akan muncul di wajah Ayase.
Saat Ikki melihat ekspresinya, dua pertanyaan terlintas di pikirannya.
Apa dia benar-benar Ayase? Atau, apa ini Ayase yang sebenarnya?
Dan untuk membingungkan Ikki, Ayase membalasnya dengan nada mencela.
“Makanya ini balasanku. Gak peduli apa yang harus kulakuin, akan kukalahkan lawanku. Harus.”
Di tangannya, dia memanifestasikan pedang merah terang Hizume.
Kemudian, terdengar suara desingan pedang yang bergema di langit.

Bagian 11
“—!?”
Ikki mempersiapkan diri setelah mendengar suara pedang tersebut. Tanpa ragu, Ayase menggunakan suatu kemampuannya saat ini untuk memotong sesuatu.
…Namun apa yang sebenarnya baru saja dia potong?
Ikki meningkatkan tingkat kehatian-hatiannya sampai maksimal. Dia mengumpulkan kesadarannya dan sebagai gantinya mematikan indra pendengaran dan mengurangi indera penglihatannya sampai dia mengalami buta warna, untuk berkonsentrasi terhadap situasi saat ini.
Dia segera menyadari suatu keanehan.
Tepat di depannya ada Ayase. Di belakangnya, pagar untuk suatu alasan telah runtuh. Kenapa? Karena pengait pagar tersebut terpotong.
Tidak ada suara. Jelas dia menggunakan suatu kemampuan.
Apa motifnya? Apakah benar-benar bagi dia memotong pengait tersebut?
Ikki yang bingung karena tidak mengetahui alasannya… didorong menuju kebingungan lebih dalam karena apa yang terjadi berikutnya.
Untuk suatu alasan, Ayase juga jatuh bersamaan dengan puing-puing pagar, jatuh dari atap setinggi gedung empat lantai.
“Ap—“
Terkejut, syok, tapi pikirannya masih mengalir.
Dia tidak mengerti maksud tindakan Ayase. Apakah dia sengaja jatuh? Atau ada suatu arti dibaliknya? Dia tidak mengerti. Namun, sekarang bukan waktu untuk memikirkan hal-hal seperti itu.
Segera, aura biru mengelilingi Ikki. Dia telah mengaktifkan Ittou Shura.
Dia mendorong kekuatannya sampai batasnya. Dia melesat menuju pagar dan meraih Ayase. Ikki, yang berada dalam mode Ittou Shura, dapat dengan mudah mendarat meskipun dari ketinggian empat lantai. Namun dia tidak bisa menggunakan mode itu lebih dari sekali, dan kekuatannya hanya berlangsung dalam waktu singkat.
Dia berlari vertikal di dinding gedung Sekolah. Dia menangkap Ayase dan berhasil menangkapnya.
“Sesuai dugaanku.”
“K-Kamu,… kamu ini bunuh diri ‘kah?”
“Iya. Bukannya aku sudah bilang gak peduli apapun yang harus kulakuin, aku yang bakal menang? Kalau jawaban Kurogane-kun sama kayak aku maka bakal berpikir sebaliknya, tapi jelas, Kurogane-kun Cuma ‘sekedar’… Jadi aku terpaksa makai kekerasan buat menang. Kurogane-kun ngalahin aku dalam ilmu pedang, dan dia juga punya kartu as, Ittou Shura. Gak mungkin aku bisa menang ngelawan hal itu. Jadi yang harus kulakuin itu tinggal ngebuang kartu as-mu itu. Kudengar kamu bisa makainya sehari sekali doang. Dan tadi sudah kamu pakai. Pertandingannya dimulai jam sepuluh. Kamu gak bakal pulih tepat waktu. Bahkan kalau aku gak bisa ngalahin kamu dengan pedangku, sekarang kamu sudah gak punya Ittou Shura lagi, jadi aku mungkin bisa ngalahin kamu dengan kemampuanku sebagai seorang kesatria.”
Ikki menggigit bibirnya terhadap penjelasan Ayase. Seperti yang dia katakan. Ittou Shura adalah sebuah teknik yang mendorongnya sampai batasnya. Teknik itu akan menggunakan kekuatannya, semua kuantitasnya sihir yang dia simpan. Untuk mengatasi hal itu, yang harus Ayase lakukan hanyalah membuatnya menggunakan sihir sebelum pertandingan. Dia tidak akan bisa menggunakannya lagi. Namun—
Apakah aku salah… Apa aku gagal memahaminya?
Ikki sungguh mengira Ayase adaah seorang pekerja keras jujur. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan menghancurkan kerja keras orang lain seperti ini. Ayase yang bangga dengan ilmu pedang ayahnya, yang bahagia menjadi sedikit lebih dekat dengan ajaran ayahnya, yang kadang-kadang bertingkah seperti seorang anak kecil hanya dengan mempelajari sesuatu yang baru, apa semua itu hanya pura-pura?
“…Pertama kalinya aku ngeliat Ayatsuji-san, aku senang karena ada orang lain di Sekolah ini selain aku yang sangat mengabdikan diri dalam ilmu pedang. Kupikir kita bisa jadi teman.”
“Aku berterima kasih banget sama bimbinganmu sampai sejauh ini. Bakal kupakai itu untuk ngalahin Kurogane-kun.”
“Kukira kamu bukan tipe orang yang bakal ngelakuin hal kayak gini.”
“Salahmu karena berekspektasi padaku.”
“…! Sword Eater mungkin udah ngambil sesuatu dari Ayatsuji-san. Tapi apa yang Ayatsuji-san lakuin ini sebuah penghinaan gak Cuma untukku, tapi Stella, Shizuku, dan semua yang berpartisipasi di festival! Ini itu sebuah penghinaan bagi kehormatan kita sebagai kesatria! Ini sebuah penghinaan bahkan bagi dirimu sendiri, Ayatsuji-san! Semua ini, demi keinginanmu ngerebut lagi sesuatu. Bahkan kalau kamu berhasil, apa kamu bisa bangga sama diri kamu sendiri? Apa kamu bisa bangga kalau menangin hadiahnya dengan cara kayak gini?”
“Itu bukan sesuatu yang harus Kurogane-kun kuatirkan.”
Ayase sepenuhnya mengabaikan pertanyaan-pertanyaan Ikki, yang tampak mendampratnya.
“Gak urus kamu mau bilang apa, bakal kuhabisi kamu nanti.”
Dan dengan itu, dia berpaling. Punggungnya tidak begitu jauh, tapi terasa sangat jauh. Segera, Ikki tidak bisa melihat sosoknya lagi.
[Untuk jaga-jaga, Ikki harus mutuin hubungan dengan dia. Kalau kamu nanganin situasi dengan enteng, kamu mungkin gak bisa menangin pertandingan yang sudah pasti bisa kamu menangin.”
Dia mengingat apa yang Arisuin katakan. Itu tepat sekali. Perasaan kompleks ini, dapat mempengaruhi ilmu pedangnya.
Jadi, apakah dia harus memutuskannya? Hubungannya dengan Ayase. Memutuskannya… melupakan semua yang telah terjadi, apa itu sungguh tidak apa-apa?
“—“
Reaksi dari Ittou Shura yang habis membuatnya hatinya mencelos.
Sambil berlutut disana, Ikki, untuk sekali…
“Bangsaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat!!!”
Mengumpatkan kata kasar, dan memukul halaman.