PETUALANGAN SOLO
(Translater : Zerard)

Guru gadis itu mengatakan kepadanya untuk tidak pergi keluar pada hari itu, namun rasa penasarannya jauh lebih persuasif di banding instrukturnya.
Terdapat bagian luar dari dinding kuil yang telah rusak, dan ini akan menjadi kesempatan sempurna untuk melihat apakah dia dapat keluar melalui celah itu.
“Hrm...ahh... Itu dia! Heh-heh! Gampang.”
Pakaiannya penuh akan debu, namun dia tidak mempermasalahkannya seraya dia mengeluarkan suara bangga dan membusungkan dadanya yaang belum berkembang.
Di balik lubang itu adalah sebuah lahan rumput dan langit biru. Mentari yang begitu menyilaukam menandakan musim panas akan segera datang.
Gadis itu mempunyai rambut panjang berwarna hitam mencolok. Bajunya terikat dengan sebuah ikst pinggang, memiliki banyak tambalan, dan di tambah dengan debu saat ini.
Dia mengibaskan bajunya, dan kemudian mulai berlari, menyeret kakinya yang memakai sandal kebesaran.
Dia pergi menuju gerbang desa, yang menghubungkan dunia luar dengan sebuah jalan, walaupun dia tidak mengetahui apa yang berada di luar sana.
Aku harap aku nggak ketahuan mereka!
Dia berlari menuju pagar dan sekitarnya, namun dia tidak melihat siapapun. Syukurlah aku tepat waktu. Dia duduk di pagar. Mengayunkan kakinya, menggaruk kuku kakinya dengan sendal. Hembusan angin lembut terasa begitu nyaman ketika membelai kulitnya yang berkeringat.
Mungkin nanti aku pergi berenang di sungai.
Gurunya tidak membiarkan mereka banyak bermain akhir-akhir ini, dan sang gadis tidak menyukai itu. Gurunya selalu mengatakan—“Lebih baik belajar daripada bermain”—namun akhir-akhir ini, sikapnya benar-benar spesial.
Goblin ada di dekat sini, ucap gurunya. Gurunya tidak mengatakan kepada mereka apakah terdapat sebuah sarang di sekitar sini; mungkin dia sendiri tidak mengetahuinya. Jika dia tidak mengetahuinya, mengapa dia tidak langsung saja mengatakannya?
Mungkin dia berpikir kalau dia bilang ada sarang dekat sini, aku akan pergi mencarinya.
Namun gadis itu tidaklah cukup bodoh untuk melakukan hal seperti itu seorang diri. Dia akan membutuhkan dua atau tiga teman dari kuil untuk menemaninya.
“Huuaa... Ahh.. Hmm...”
Seraya pikiran ini melintas di kepalanya, dia menguap. Matahari awal musim panas sangatlah sempurna untuk sedikit tiduran. Dia akan menunggu sebentar lagi, dan jika seseorang yang dia tunggu tidak datang, maka dia akan memejamkan matanya selama beberapa menit.
“Tapi...”
Jika dia melarikan diri hanya untuk tidur dan bermain, apa yang akan dia katakan ketika gurunya memberikan ceramahan tiada akhir? Tapi aku cuma—sang gadis akan berkata, namun alasannya melarikan diri akan segera menghilang.
“Mungkin aku bisa bilang kalau ada anak kecil yang menangis, jadi aku pergi keluar untuk mengambil buah buat mereka? Ahh, nggak, aku sudah pernah pakai alasan itu...”
Hmm. Dia melipat tangan berpikir, hingga dia mendapati dirinya terlalu condong ke belakang.
“Uuuppss!” Dia mengayunkan lengannya, mencari keseimbangan, hingga akhirnya dia mendarat dengan sedikit gedebuk. Merupakan pendaratan sempurna, bahkan dalam standar gadis itu, dan dia pun tersenyum puas. Tak seorangpun di kuil yang dapat melakukan hal yang sama seperti dirinya.
Sebenarnya cukup mudah kok... gumaman itu terlepas dari bibirnya. Itulah di mana ketika dia menyadari sebuah sosok hitam di kejauhan. Sosok itu berjalam di jalan, mendatangi dirinya. Seorang pria.
“Apa ini desa tempat di mana goblin muncul?”
“Yap!” dia membalas, namun kemudian dia memiringkan kepala mengarah pria itu: “Hmm?”

Untuk pertama kalinya, sang gadis memperhatikan seksama pria itu dari kepala hingga kaki dan tercengang dengan apa yang di lihatnya. “Pakaianmu aneh...”
“Benarkah?”
Armor kulit kotor, helm yang terlihat murahan dengan satu tandukmpatah. Pada pinggulnya, sebuah pedang dengan kepanjangan yang tidak biasa. Pada lengannya sebuah perisai bundar kecil.
Dia adalah petualang pertama yang pernah di lihat gadis berumur sepuluh tahun ini.
*****
“Masyaallah! Sudah ku bilang berkali-kali untuk nggak pergi keluar!”
“Tapi aku pikir... aku pikir mungkin aku harus membantu petualang itu berkeliling desa...”
“Dia nggak membutuhkan bantuanmu dalam desa sekecil ini!”
Tangisan sang gadis bergema di sekitar kuil. Dia mendapatkan beberapa pukulan di kepalanya.
“Kembali ke kemarmu,” Sang guru berkata. Sang gadis mengangguk lemah, dan sang instruktur mengusirnya pergi. Kemudian dia membersihkan tenggorokannya. “Saya minta maaf karena anda telah melihat pemandangan tadi...”
“Nggak masalah,” pria itu berkata dengan gelengan kepalanya. “Dia sudah mengantarkanku ke sini.”
“Anda baik sekali. Gadis itu memang benar-bernar bersemangat sekali.”
Sang intruktur sekolah kuil ini adalah seorang wanita berwajah tegang, tidaak lagi muda; namun ketika dia melihat anak-anak, matanya melembut.
Pria itu melihat sebuah kincir angin, lambang dari Dewa Perdagangan. Dewa ini mengawasi para pengelana dan keberuntungan, begitu juga dengan para pedagang. Dan juga, dia adalah seorang dewa yang mengikat. Mungkin sudah sepantasnya bahwa kuil ini menampung psra yatim piatu, dan wanita ini terlihat sangatlah berkualifikasi untuk menjalankan sekolah ini.
“Sebuah pertempuran telah merenggut kedua orang tuanya, namun dia tidak merasa sedih. Dia membantu di sekitar kuil di saat dia bisa.”
“Begitu?”
“Jika anak-anak itu kehilangan rumah mereka kembali di karenakan monster....”
“...”
Pria itu diam, berpikir, kemudian mengangguk. “Itulah tujuanku ke sini.”
Sang instruktur tampaknya menganggap ucapannya sebagai penyemangat hati. Sebuah pertanyaan melintas di benaknya. Tanpa kehilangan senyumnya, dia berkata. “Dan di manakan rekan anda berada?”
“...”
Pria itu tidak menjawab dan hanya berdiri di sana, menatap ke depan.
Sebenarnya, sang instruktur tidak mengetahui jika pria itu sedang memperhatikannya. Adalah mustahil untuk dapat melihat di dalam helm itu.
“Halo?” Sang instruktur berkata curiga, dan helm itu bergerak seolah baru menyadari keberadaannya.
“Apa?”
“Oh, tidak, saya hanya penasaran...tentang rekan party anda yang lain. Jika mereka—“
“Nggak.”
“Apa anda bermaksud bahwa mereka akan datang nanti?”
“Aku sendirian.”
Hal ini menyebabkan mata sang guru terbelalak.
Tidak lama setelah jawaban singkatnya, dia merogoh isi kantung peralatannya dan mengeluarkan sebuah dompet. Dia menarik sebuah koin silver dari dalam dan mengadahkannya.
“Ini seharusnya cukup untuk membayar kamarku. Aku mungkin juga butuh bantuanmu untuk hal lainnya.”
“Ma-masyaallah...”
Bahkan Guild-pun belum dapat menuntaskan permasalahan ini. Sang pemohon quest telah menawarkan hadiah, oleh karena itu tidak seharusnya mereka menyediakan papan dan pangan. Sedangkan di sisi yang lain, apakah para petualang harus membayar untuk tinggal di manapun tempat quest itu berada?
Akan sangatlah mudah untuk menambahkan papan dan pangan di dalam hadiah tersebut, namun karena secara definisi hadiah di bayarkan setelah quest yang berhasil di selesaikan, sangatlah sulit untuk memberikan papan dan pangan sebagai uang muka.
Di sisi yang lain, jika pengeluaran ini di anggap sebagai kewajiban para pemohon quest, maka akan ada petualang yang menerima quest, mendapatkan makanan gratis, dan langsung pergi.
Setelah perdebatan yang sangat lama, pembayaran sewa kamar dan makanan akan di tentukan dengan negosiasi antara petualang dan tuan rumah.
“Baiklah, terima kasih banyak.”
Walaupun begitu, ini adalah kuil Dewa Perdagangan. Para biarawati tidak dapat hidup hanya dengan menghirup udara, begitu juga para anak yatim piatu. Biarawati itu mengambil koinnya dengan gerakan tangan yang terlatih, menggaruk ujung koin itu dengan satu kuku. “Kami sangat bersyukur atas berkah ini.” Dia berkata, dan memasukkan koin tersebut ke dalam kantungnya. “Maafkan kelancangan saya,” dia menambahkan. “Akhir-akhir ini begitu banyak koin dengan kualitas rendah yang beredar.” Tersenyum manis, dia berkata. “Semoga amukan dewa akan menimpa mereka semua.”
“Jadi,” Pria itu berkata tenang dan acuh. Suaranya bagaikan getaran di dalam bumi. “Di mana goblinnya?”
*****
Desa ini merupakan pemukiman perbatasan di kaki gunung, kurang lebih beberapa lusin rumah berdempetan dekat sebuah tebing. Sebuah desa kecil yang akan kamu temukan di manapun.
Tidak terdapat reruntuhan tua yang dapat mereka manfaatkan, tidak ada jalan raya yang melewati desa mereka. Hanyalah sebuah titik kecil tempat di mana orang-orang berusaha bercocok tanam dan menggali pegunungan untuk mencari penghasilan hidup.
Satu pria, seorang petualang, melangkah sigap melewati desa. Dia tampak aneh dan janggal, dan banyak orang yang memperhatikannya dari jauh.
“Hei, bukannya itu petualang yang mereka bicarakan?”
“Aku dengar dia seorang warrior. Bukan pemula kalau di lihat dari armornya.”
“Tahu dari mana kamu? Bisa saja dia mengambil armor itu dari bekas medan tempur.”
“Cuma dia sendirian? Aku kira para petualang selalu berkelana dalam grup lima atau enam.”
“Aku harap dia datang kesini bukan untuk memohon seperti itu...”
“Dia nggak akan—kamu tahulah. Dia nggak akan menyerahkan ini pada kita kan? Mengubah kita menjadi kekuatan tempur atau sesuatu?”
“Entahlah.”
Bisikan-bisikan yang terdengar sama sekali tidak memihak kepada petualang itu. Mungkin itu adalah hal yang sudah sewajarnya. Para penduduk desa sudah mengetahui bahwa kemungkinan besar mereka akan mendapatkan amatiran, namun setidaknya mereka mengharapkan satu party penuh akan lima atau enam orang, termasuk seorang scout dan warrior.
Namun, mereka malah mendapatkan satu warrior ini dengan perlengakapan usang, dan mereka sulit untuk mempercayainya.
Sudah sewajarnya bagi mereka untuk mengikuti petualang ini yang sedang berkeliling ketika dia mengatakkan bahwa dia ingin melihat sekitaran desa.
Tiba-tiba dia berhenti berjalan ketika dia telah selesai melakukan satu putaran mengelilingi desa, mengikuti alur pagar yang mengitari desa.
“Jadi gunungnya ada dinutara,” dia bergumam, sangat pelan hingga penduduk desa tidak yakin apakah pria itu sedang berbicara pada dirinya sendiri atau bertanya pada mereka.
Para penduduk desa saling bertukar pandang hingga seseorang, di antara kerumunan berkata, “Benar.”
Pria itu kembali terdiam setelah mendengarnya.
Setelah beberapa saat, orang yang berada paling dekat dengannya bertanya: “Memangnya kenapa?”
“Seberapa terjal?” Petualang itu bertanya.”
“Kurasa nggak terlalu terjal.”
“Ada gua atau semacamnya?”
“Aku nggak yakin, tapi kami punya seorang woodsman. Kamu bisa tanya sama dia.”
“Aku ingin bertanya padanya.”
Seorang penduduk desa berlari kecil. Masih berdiri di sana, pria itu mendengus pelan.
Mereka mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui dari arah mana para goblin menyerang. Hanya saja setiap malam, makhluk-makhluk itu menyelinap melewati penjaga dan melintasi pagar, berlari di sekitar ladang sebelum akhirnya mereka melarikan diri.
Pada mulanya, para penduduk desa mengira bahwa itu adalah ulah bandit. Namun ide tersebut terhempas ketika mereka menemukan jejak kaki yang jelas bukan milik manusia.
Seberapa banyak mereka? Para penduduk desa hanya dapat mengatakan, “Banyak.”
Dengan kata lain, murapakan quest yang sama yang selalu berakhir di Guild.
Setelah beberapa menit, penduduk desa datang kembali. “Aku tanya sama dia, dan dia bilang di sana nggak ada gua atau reruntuhan tua.”
“Begitu,” Sang petualang berkata, mengangguk berpikir. “Pengelana kalau begitu.”
Mereka telah terusir dari tempat di mana mereka hidup sebelumnya dan sedang mencari rumah baru. Mereka menetap di desa ini sebagai tempat untuk mendapatkan makanan, begitu juga wanita, dua hal yang dapat menghabiskan waktu mereka dan menambah jumlah mereka dengan goblin baru.
Apapun itu, mereka tidak dapat di biarkan begitu saja. Itulah mengapa dia berada di sini.
“Kalau kamu nggak keberatan, aku punya permintaan.”
“Heh?”
“Aku akan membayarmu. Aku butuh kayu sisa dari pembuatan pagar ini, dan beberapa alat tukang kayu.” Dia mengeluarkan beberapa koin silver dari dompetnya dan memberikannya kepada penduduk desa.
“Bisa saja sih, tapi koin ini...koin ini nggak di kikir kan?”
“Aku menerima koin itu sebagai hadiah dari Guild,” dia berkata datar, bahkan ketika penduduk desa menggores koin itu dengan kuku dan memberikan tatapan mencurigai.
“Kalau begitu, baiklah.” Sang penduduk desa berkata dan memasukkan koin ke dalam ksntung bajunya.
Mengikir ujung sebuah koin akan mengurangi beban dari koin itu, dan menyimpan serat kikir dari koin itu adalah istilah umum akan “Menabung uang.” Tentu saja, ini ilegal, karena ini telah mengurangi nilai harga dari mata uang, namun tidak sedikit orang yang terus tetap melakukannya. Jika dia adalah seorang berandalan jalanan dan bukan seorang petualang, para penduduk desa mungkin akan lebih bersikeras akan hal ini. Dan juga, ini adalah hal yang sangat janggal: petualang seharusnya menerima uang, akan tetapi di sini dia membayar untuk membasmi goblin!
“Makasih, aku akan kembali dengan barangnya.”
“Apa kalian berjaga di malam hari.”
“Kami punya beberapa pemuda yang berjaga.”
Sebagai pengganti seseorang yang tengah memenuhi permintaan petualang itu, jawaban ini datang dari seorang pria yang lebih tua yang tampaknya merupakan kepala desa ini.
“Tapi nggak semuanya,” dia melanjutkan. “Mereka bergilir....”
“Terus lakukan. Kita nggak ingin para goblin menyadari adanya perubahan.”
“Baik pak.” Kepala desa berkata dengan anggukan. Dia tidak dapat menyembunyikan setitik rasa ragu di dalam suaranya, namun ekspresinya segera melembut setelah dia melihat koin silver itu berpindah tangan. Seseorang bersedia memberikan suatu bayaran adallah seseorang yang telah mendapatkan cukup banyak kepercayaan.
“Aku akan melakukan persiapan.”
“Persiapan?”
“Ya.” Sang petualang mengangguk , melihat seksama sekitaran desa.
Dia berpikir bahwa kemungkinan terbesar adalah para goblin akan muncul dari gunung di belakang. Namun tidak ada salahnya untuk tetap waspada pada tiga arah lainnya.
Ladang petani biasany terbagi menjadi tiga: satu di panen pada musim semi, satu pada musim gugur, dan satu di biarkan kosong. Tanaman pada ladang musim semi masih belum tumbuh sepenuhnya, namun tanaman pada musim gugur sudah mulai mendekati masa panen. Ketika dia melihat kubis, gandum, dan lobak ranum, dia mengetahui bahwa itulah incaran para goblin.
Ladang kosong memounyai bahayanya tersendiri. Saat ini, hanya semanggi putih, makanan untuk ternak, yang tumbuh di sana, dan untuk dapat mencapai ladang itu sangatlah mudah. Untuk saat ini, para goblin hanya mencuri sayuran, namun tidak akan lama lagi, mereka akan berpi dah pada binatang, dan kemudian gadis desa.
Mereka tidak mempunyai banyak waktu. Namun apakah mereka bisa mendapatkan sedikit hasil?
“Apa memungkinan untuk memanen lebih awal?”
“Aku rasa kami bisa melakukannya.” Kepala desa memutar matanya coklat terbakar matahari mengarah ladang, berkedip melawan cahaya. “Kalau kita mulai sekarang, dengan semua mencangkul berbarengan, kita mungkin akan selesai besok siang.”
“Kalau begitu, lakukan.”
Ucapannya membuat kepala desa mulai mengayunkan lengan berkeriputnya, memberikan instruksi kepada penduduk desa yang berkumpul. Beberapa pria dan wanita bergegas mengambil perkakas dari gudang, kemudian pergi menuju ladang.
Pria itu tidak mengetahui apakah masing-masing dari petani itu memiliki ladang itu, atau apakah penduduk desa itu mempunyai budak. Apapun itu, akanlah lebih baik bagi penduduk desa untuk memanen lebih awal daripada panen mereka tercuri. Bahkan , walaupun orang-orang itu adalah budak, mereka tentunya akan bersemangat untuk memanen.
“Itu tempat di mana kalian menimba air, kan?” dia bertanya, memutar matanya mengarah sungai yang mengalir melewati desa. Adalah sungai yang dangkal, tidak cukup untuk menjadi halangan psra goblin walaupun dengan tubuh pendek mereka.
Permasalahannya adalah kanal irigasi itu menghubungkan sungai menuju kota.
“Naikkan tingkat air di kanal. Aku ingin menggunakannya sebagai parit.”
Mendengar ini, kepala desa mengangkat alisnya.
“Saya rasa kanal itu cukup dalam hingga anak kecilpun dapat tenggelam di dalamnya.”
“Er, benar. Teknisnya pemilik tanah lokal sini yang memiliki air ini...” Dia melirik pada kincir air yang berdiri di samping sungai. Kincir itu mengemban lambang dari gubernur; tidak ada bangunan lain di sekitar daerah ini yang cukup besar untuk menggiling tepung.
Dengan kata lain, sungai ini adalah hak milik sang gubernur, dan jika mereka ingin menggunakannya, maka mereka harus membayar pajak. Karena mereka membayar pajak, sang gubernur akan melindungi daerah ini; kenyataan bahwa gubernur tidak dapat melakukan itu, membuktikan betapa sulitnya kehidupan di perbatasan. Mereka tidak dapat mengharapkan pasukan militer untuk hanya sekedar mmenghalau goblin. Bahkan andaipun mereka datang, berapa hari yang akan di butuhkan hanya untuk mengumpulkan pasukan itu?
“Akhir-akhir ini hujan, jadi sungai sedang pasang.”
Petani adalah orang yang pintar, dan mereka akan melakukan apapun untuk dapat bertahan hidup. Dia sangat memahami itu. Dia sendiri berasal dari sebuah desa—walaupun bukan desa ini.
Di balik helmnya, dia memejamkan mata, menenangkan pengelihatanya yang bergetar dan pikiran yang berputar. Dia menarik satu napas dalam.
Jika dia seekor goblin, apa yang akan dia lakukan? Apa yang akan dia incar? Apa yang akan dia benci?
Jika kamu membenci seseorang, kami menjadi goblin.
Adalah benar, dia yakin akan hal itu.
“Lakukan persiapan untuk festival.”
“Festival?”
“Ya,” Dia mengangguk. “Aku benci mengatakannya, tapi kita harus membisrkan makhluk-makhluk itu melakukan apa yang mereka mau malam ini. Tapi malam lusa, akan berbeda cerita.” Dengan gerutu, dia memperhatikan sekitar desa sekali lagi.
Apa yang akan di lakukan seseorang, ketika dia dapat di serang dari berbagai arah?
“Pertama, pasak.”
Terdapat begitu banyak hal yang perlu dia lakukan.
*****
“Baiklah—ayo lakukan!”
Gadis Sapi memukul pipinya dan sedikit berteriak untuk menyemangati dirinya. Dia membuka pintu gudang dengan sedikit tenaga lebih.
Dia masuk, sedikit terbatuk karena debu yang berterbangan.
Ruang kosong menyambut dirinya. Lain cerita jika seseorang tinggal di sini untu, satu malak, namun siapa yang ingin tinggal di tempat seperti ini setiap hari?
“Jujur aja, dia itu terlalu banget!” Gadis Sapi meletakkan tangan di pinggul dan membuat suara lelah.
Hampir tidak ada satupun barang berkepemilikam pribadi; satu-satunya yang pria itu miliki di sini adalah tubuhnya sendiri. Gadis Sapi berpikir apa yang di lakukan pria itu dengan baju gantinya. Tentunya sesuatu yang tidak semestinya.
Kalau dia pikir aku akan membiarkannya terus selamanya...
Dia mulai menutupi mulut dengan sebuah kain dan kemudian mengambil sapunya dan menyapu semua sampah keluar. Gudang ini sendiri terlihat dalam kondisi yang cukup baik; mungkin dia telah melakukan beberapa perbaikan.
“Gah! Dia itu selalu...selalu...!”
Keadaan struktur yang membaik ini membuat dirinya menjadi sedikit ceroboh dalam menyapu; dia menyapu penuh semangat tanpa takut tempat ini runtuh.
Mengayunkan sapu itu mengingatkan dirinya kepada pria itu.
Tampaknya mereka selalu bersama di saat mereka kecil. Terdapat beberapa anak kecil lain yang seumuran di desa mereka; mungkin itu semua hanyalah karena rumah mereka bersampingan.
Dia gemar sekali berlari melewati ladang, mengayunkan batang kayu, berpura-pura menjadi petualang. Namun dia tidak pernah mengetahui apa yang terdapat di balik pegunungan atau bahkan wujud sebuah kota.
Itulah kenapa waktu itu kami berkelahi.
Ketika semua sampah telah di bereskan, Gadis Sapi mulai membersihkan lantai.
“Paling nggak aku harus kasih dia handuk kecil...”
Atau mungkin meneriakinya untuk tidur dalam kamarnya sendiri.
“Yeah, itu dia. Yeah. Aku akan tanya apa sih yang salah dengan kamar yang sudah ku siapkan.”
Gadis Sapi dapat membayangkan kakak perempuan pria itu dengan kedua tangan pada pinggulnya, memarahi pria itu.
Aku rasa nggak adil untuk bawa kakak perempuannya ke dalam ini...
Karena itu dia akan menanggalkan bagian itu.
“Phew...”
Setelah dia menggosok lantai hingga bersih, dia memeras kain ke dalam ember air, yang dengan segera berubah menjadi hitam. Sangatlah jorok. Mungkin itulah yang akan mereka dapatkan karena telah membiarkan tempat ini begitu saja dalam jangka waktu yang lama.
Dia menatap ruangan ini tanpa kata. Tidaklah mudah, dia memahaminya. Hati seseorang terkadang bisa sangat rumit dan sederhana pada waktu yang sama...tapi lebih sering rumitnya.
Dia tidak dapatmengusir perasaan bahwa membersihkan semua ini adalah perbuatan sia-sia.
Dia begitu membenci pikiran gelap seperti itu mengiang di benaknya.
“Lupakan saja, kerja saja lah!” dia berkata pada dirinya sendiri. “Mungkin ruangan yang bersih dan nyaman akan merubah perasaannya.” Dia kembali menggosok lantai.
Sesuatu menetes jatuh ke pantai. Apakah keringat atau air mata? Bahkan Gadis Sapi-pun tidak mengetahuinya.
*****
O Dewi, Ibunda Bumi.
   Dewi yang menabur angin berderu
   Dadamu bernilai seribu keping emas
   Walaupun seseorang akan menghabiskan uang layaknya air,
   Apapun yang datang adalah kehendakmu
   Kami, kami tidak memiliki uang, namun
   Dewi, O Dewi, keluarlah
   Keluarlah menuju lautan emas

Rakyat awam bernyanyi penuh makna seraya dia bekerja mengumpulkan panen. Sabit mengayun, memotong gandum; kubis di cabut dan lobak di tarik dari bumi; kacang-kacang di kumpulkan di dalam sebuah keranjang.
Panen adalah pekerjaan darurat, namun terlihat bukti kegembiraan di setiap wajah mereka. Biji di tanam pada musim gugur, terbaring diam melewati musim dingin, dan sekarang dapat di kumpulkan sebagai makanan. Mungkin kegembiraan itu adalah sesuatu yang dapat di pahami.
Para petani telah membanting tulang untuk menumbuhkan panen ini, menyiapkan tanah, memperhatikam matahari, angin, dan hujan. Beberapa hasil panen dapat di ubah menjadi uang untuk membayar pajak mereka, namun tidak di ragukan masih akan ada banyak yang tersisa untuk mereka.
Mustahil bagi mereka untuk membiarkan goblin cecungut untuk masuk dan mencuri panen mereka.

   Engkau datang, engkau datang, Ibunda Bumi
   Dewi yang menabur angin berderu
   Bokongmu layaknya empat mata arah
   Walaupun seseorang akan menghabiskan uang layaknya air,
   Jika mereka tidak mempunyai cintamu, Dewi, engkau tidak akan datang.
   Kami, kami tidak memiliki uang, namun
   Ini, O Dewi, adalah prosesi pernikahanmu
   Kami membimbingmu menuju lautan emas.

Surya mentari hangat, angin di rerumputan, sajak lagu yang mengalun ke telinga.
Suara ceracau lembut dari kanal irigasi, tempat di mana tingkat ketinggian air secara perlahan semakin tinggi; decitan berkala dari kincir angin.
Suara, suara yang hanya dapat terdengar di desa pertanian seperti ini, terdengar bagaikan berasal dari dunia lain.
Jika seseorang sedang duduk di antara jalan sawah padi untuk mendengarkan, akan sangatlah mudah untuk dapat terhanyut dalam kelelapan.
Tiba-tiba dia tersadar bahwa dia sedang berdiri tidak bergerak, dan dengan cepat mulai menggerakkan pisaunya kembali.
Tidak ada waktu; tentunya tidak ada waktu untuk tidur-tiduran.
“...”
Pertama, buat pasak.
Itulah deklarasinya, dan tangannya sedang memegang sebuah pasak kayu biasa, bersama dengan sebuah pisau kikir. Pasak itu cukup panjang hingga dapat dinkira sebuah tombak, namun itu hanyalahnsebuah kayu yang telah di kikir hingga menjadi runcing pada kedua sisinya.
Dia menggosok serbuk kayu dari kakinya yang bersila dan meletakkan pasak yang telah selesai ke sampig.
“Hey, kenapa kamu tajamin kedua sisinya?”
Di balik helmhya, dia mengernyit mendengar pertanyaan itu.
Dia melirik dan melihat seorang anak gadis yang memperkenalkan diri kepadanya ketika dia tiba di desa ini. Terakhir kali pria itu melihatnya, dia sedang menangis tersedu akibat di marahi oleh biarawati, namun sekarang di kembali tersenyum riang.
Dia berpikir sesaat, kemudian memiringkan helmnya penasaran.
“Apa kamu nggak membantu yang lain?”
“Aku rasa mereka nggak butuh bantuanku.” Herannya, gadis itu membusungkan dadanya bangga ketika mengatakan itu.
“Begitu.”
Dia menghiraukan gadis itu dan mengambil kayu berikutnya. Sreek, sreek. Di setiap pisaunya bekerja, gadis itu memperhatikan dengan seksama.
“.....”
“.....”
“.....”
“.....”
Setelah beberapa saat, dia menghela dan berkata, “Ini untuk di pasang pada kanal irigasi.”
“Semuanya?”
“Cukup untuk membuat musuh berpikir dua kali untuk menyebranginya.”
Alasan mengapa pasak itu panjang dan runcingnpada kedua sisi adalah agar pasak ini dapat di pasang pada kanal.
Hasil surver geografis yang di lakukannya di sekitar perbatasan  desa telah menandakan bahwa sebuah pagar tidak akan dapat di bangun—dengan kata lain, di sekitar ladanh—satu-satunya pilihan adalah untuk memanfaatkan kanal.
“Yang lebih penting lagi,” dia berkata, melirik menjauh dari sang gadis, yang memandangnya dengan kagum, “Biarawati itu mencarimu.”
“Oh, sial!”
Hampir ketika ucapan itu keluar dari mulutnya, sang gadis melaju kencang layaknya kuda. Dia mencoba mengikuti gadis itu dengan matanya, namun hanya tampak rambut hitam gadis itu yang berkibas di ujung pengelihatannya. Gadis itu cukup cepat. Sang biarawati tiba dengan berlari, terngah-engah, namun tampaknya dia tidak akan mempunyai kesempatan untuk menangkap gadis itu.
“Oh,  ya ampun—tolong maafkan dia. Saya sudah memberitahunya untuk tidak mengganggu anda.”
“Nggak usah di pikirkan,” dia berksta, menggeleng kepalanya, “Aku nggak merasa terganggu.”
Dia meletakkan pasak yang telah selesai ke samping dan kembali membersihkan serbuk dari lututnya. Dia bekerja secara mekanikal, berkewajiban; dia merasa bahwa dia harus terus bersikap acuh.
Mulai dengan apa yang ada di depanmu. Tidak akan ada dan tidak akan pernah ada waktu untuk memikirkan tentang masa depan.
Sang rhea tua meneriaki sesuatu kepadanya juga, : tapi jangan pernah berhenti berpikir!
Jika mengingatnya kembali, proklamasi berkontrakdiksi itu mungkin hanyalah masternya yang mengucapakan apapun yang sedang terpikir di kepalanya pada saat itu.
“Mungkin ada goblin yang berpatroli. Mereka nggak akan mencurigai apapun selama semua berlanjut seperti biasanya.”
Tetap saja, dia terus melanjutkan pikirannya untuk bekerja bersama dengan tangannya, seperti yang telah di ajarkan kepadanya.
“Apa benar?”  sang biarawati merespon.
“Kemungkinan besar.” Dia berkata, dan helmnya mengangguk.
Dia menunjuk sesuatu dinujung desa: sebuah bangunan batu besar, seperti struktur pemakaman.
“Apa itu gudang tempat kalian menyimpan panen?”
“Ya. Dan walaupun itu terbuat dari batu, bangunan itu tidak cukup kokoh...” Sang biarawati mengakui bahwa betapa malunya dia untuk mengatakan kenyataan itu.
Dia menghiraukan biarawati itu, bergumam pada dirinya sendiri.
Kalau begitu, itu tempat di mana goblin sama sekali nggak boleh masuk.
Dan di sisi lainnya, itu adalah tempat yang paling di incar para goblin.
“Apa aku bisa memintamu untuk membersihkan pagar dan pasak ketika questnya selesai?”
“Saya yakin kami tidak akan keberatan pak...”
Dia mengumpulkan pasaknyang telah selesai, kemudian berdiri perlaham.
“Aku mungkin nggak akan bisa menolongmu.”
*****
“Baiklah, semuanya, sekarang kami menawarkan sebuah quest untuk membunuh Rock Eater!” Gadis Guild berteriak sekuat tenaga agar dirinya dapat terdengar hingga ke ujung bangunan.
“Kami ikut!”
“Partyku akan pergi!”
“Baik!” Gadis Guild berkata seraya para petualang mengangkat tangan mereka. Dia bergegas mempersiapkan berkas yang di perlukan.
Dia secara perlahan mulai terbiasa dengan pekerjaan sehari-harinya, namun ini adalah pertama kalinya dia berurusan dengan sesuatu yang melibatkan beberapa aliansi party dan bekerja bersama. Telah di berikan kepercayaan pada proyek besar, dia berusaha untuk melakukan yang terbaik, tetapi...
Kalau aku sampai salah karena aku tidak tahu apa yang aku lakukan, semua bisa menjadi bencana...!
“Erm baiklah kalau begitu, mohon tanda tangani kertas ini, dan ketika anda selesai—“
“Aku kira yang berikutnya adalah—kamu tahulah, Peringatan bahwa Guild tidak bertanggung jawab atas keributan yang terjadi di antara party.”
“Oh, benar! Maafkan saya!”
Rasa gugup telah merenggut kemampuannya untuk berpikir; yang bisa dia lakukan adalah mendengarkan petualang yang sedang berusaha membantunya. Dia mulai ragu apakah dia seharusnya melakukan pekerjaan yang dapat mempengaruhi begitu banyak orang...
Yah, aku rasa sudah sedikit terlambat untuk itu.
Semenjak salah satu DarknGod telah tertumpas lima tahun yang lalu, monster telah membanjiri masuk ke dalam dunia.
Kisah ini berawal dari sebuah pertambangan. Para penambang, menggali di dalam perut bumi, dan bertemu dengan gumpalan cairan hitam mengerikan.
Adalah salah satu tipe dari keluarga Slime, yang di kenal dengan Blob, dan mereka secara sekejap berkembang biak, mengejar para penambang menjauh dari pertambangan.
Hal seperti itu merupakan hal yang biasa, dan benarm adalah sebuah pekerjaan yang akan di ambil para petualang dengan senang hati.
Namun itu bukanlah keseluruhan dari kisah kali ini.
Seekor Rock Eater telah muncul dari bawah tanah.
Walaupun sering salah di sangka sebagai kelabang raksasa, Rock Eater jauh darinsekedar serangga biasa. Kedua binatang ini sering di samakan karena tampilan Rock Eater memiliki banyak kaki seperti serangga, dan itu sama seperti tidak dapat membedakan antara kadal dan naga.
Mereka adalah makhluk raksasa yang secara harfiah memakan batu, menggali masuk ke dalam perut bumi di bawah pegunungan. Gua, lubang, dan terowongan di segala penjuru dunia adalah peninggalan dari Rock Eater yang kelaparan...
Atau paling tidak, seperti itulah mitosnya, walaupun para ahli filosofi menolak keras mitos itu.
Rock Eater yang selalu mencari batu pertama, adalah sebuah tanda bahwa tambang ini kaya akan permata—namun buyarlah harapan mereka karena telah terusir hingga ke permukaan oleh para Blob.
Gumpalan lambat ini menjadi mangsa yang bagus untuk makhluk yang memakan batu; seekor Rock Eater tidak akan meleleh semudah itu. Dan cangkang tipis dari Blob menyembunyikan cairan yang melimpah di dalamnya...
Sibuk sekali.
Hanya sesaat, ketika gelombang para petualang telah surut, Gadis Guild merebahkan kepalanya di atas meja. Dia berputar, menempelkan pipinya pada meja kayu itu. Terasa begitu nyaman.
“Membasmi blob. Memang sih mereka mengambil pekerjaannya, tapi...”
Jika seseorang sampai mati—jika satu party sampai terbantai—pada quest yang aku kerjakan berkasnya...
Dan ini termasuk kasus mendadak, sejauh ini Gadis Guild belum oernah berpartisipasi dalam investigasi kasus ini dalam bentuk apapun, dia seharusnya tidak mempunyai tanggung jawab apapun. Namun tetap saja...
“Uggggh...”
“Astaga, baru aja kunpikir kalau kamu sudah mulai terbiasa, kamu depresi lagi.” Bertahanlah.
Ungkapan penyemangat itu datang dari koleganya yang mengundang “Baiklah” dan sebuah anggukkan kecil dari Gadis Guild. “Tapi apa kamu tidak pernah kepikiran? Maksudku, penasaran apakah mereka akan baik-baik saja?”
“Iya, aku kepikiran, tapi memikirkan itu tidak akan membuat semua jadi lebih baik kan?”
“Iya sih.”
Dia duduk tegak dan mengambil penanya dengan hsrapan dia dapat mendapakat semangat baru, namun dia tetap tidak bisa mengerjakan berkas lainnya...
Ketika rekan kerjanya melihat Gadis Guild yang memutar pena di tangan seraya melamun, sebuah senyum memahami tersirat di wajahnya.
“Kenapa? Ada petualang yang kamu pikirkan?”
“Enggak kok!” Gadis Guild berkata dengan cemberut, namun senyum rekannya tidak pudar.
“Yah, ceritakan sama aku kapan-kapan. Ha-ha. Jadi begitu toh...”
“Aku sudah bilang bukan seperti itu!”
“Terlalu dekat dengan para petualangmu itu melanggar peraturan. Kamu harus fokus dalam pekerjaanmu.” Rekan Gadis Guild memberikannya tepukan di pundak, kemudian kembali menuju mejanya dengan terlihat riang.
Iya sih, tapi...
Gadis Guild mengheningkan dirinya kembali, kemudian dengan cepat memastikan dirinya tampak pantas.
Benar, pekerjaan adalah pekerjaan. Jika dia akan berhadapan dengan para petualang, maka dia harus memastikan bahwa dia terlihat rapi, dan—
“Nona resepsionis.”
“Eep! Uh, y-ya! Ya?”
Panggilan tiba-tiba itu hampir membuatnya melonjak dari kurai.
Hal pertama yang dia sadari adalah aroma alkohol. Dia mengernyit—dia tidak memiliki kenangan bagus dengan aroma alkohol para petualang—dan kemudian dia berkedip. Seorang pria dengan wajah seperti beruang berdiri di depannya; pakaiannya terlihat kumal, dan jenggotnya tidak terawat, namun tatapannya tajam.
Adalah seorang warrior muda yang kehilangan temannya pada pertemuan pertama mereka dengan Rock Eater beberapa hari yang lalu.
“Aku juga akan pergi,” dia berkata dengan nada yang begitu tenang. “Aku akan pergi, tolong kirim aku, nona resepsionis.”
“Erm um...”
Mata Gadis Guild melirik di sekitar bangunan. Terdapat banyak hal yang harus dia katakan kepada pria ini, namun dia tidak dapat memutuskan apa yang harus pertama dia ucapkan. Mungkin akan lebih baik jika dia tetap tak berkata apapun. Menerima permintaannya. Akan tetapi, itu terasa begitu salah baginya.
Mengambil sebuah quest adalah tindakan sukarela, dan mereka yang menerima quest bertanggung jawab atas takdir mereka sendiri.  Selama mereka berada di tingkatan yang kurang lebih hampir sama. Hanya itu saja.
Pria ini masihlah tingkat Porcelain, sejauh Gadis Guild mengingat, namun quest Rock Eater terbukanuntuk semua tingkatan. Seekor Rock Eater yang bersarang di dalam gua adalah musuh mengerikan namun masih berbeda jauh dari Dark God atau naga.
Tetapi petualang ini sedang sendirian saat ini. Dia tidak memiliki party.
“...Apa anda yakin akan baik-baik saja?”
“Aku yakin.”
“...”
Gadis Guild terdiam beberapa saat, namun dia berpikir tentang pria itu.
Apakah dia sedang bertarung dengan para goblin saat ini? Mengapa dia tidak mempermasalahkan pria itu yang pergi sendiri tetapi tidak dengan petualang yang ada di depannya ini? Sejujurnya Gadis Guild tidak ingin pria itu pergi sendiri juga, tetapi—
“Mantap, kamu dengar.” Suara kasar membuyarkan pikirannya. Gadis Guild mendengak dan melihat warrior besar dengan pedang besar yang menggantung di punggungnya. “Anggap saja dia bagian sementara dari partyku.”
“...”
Gadis Guild tidak berkata apa-apa dengan segera. Warrior muda itu menggigit bibirnya dan hanya berkata, “Terima kasih.”
Heavy Warrior mengangguk tanpa kata. Di belakangnya, anggota partynya saling bertukar pandang.
“Nona Resepsionis.”
Kali ini, Gadis Guild menghela napas lembut.
Petualang bertanggung jawab atas diri mereka sendiri. Mungkin itu sudah cukup. Dia hanya dapat melakukan yang terbaik pada pekerjaan yang dia lajukan.
“Baiklah. Semoga beruntung.” Dia berkata dan memberi salam.
*****
Untuk sekarang, memperkuat pagar adalah yang terpenting.
Mentari secara perlahan mulai terbenam, merubah langit menjadi merah. Dia terus bekerja tanpa suara.
Surya terakhir dari hari menyirami masuk ke dalam ruangan kuil, mewarnai dinding batu ruangan dengan cahaya berkilau. Permainan cahaya dari matahari terbenam pada helm yang terlihat murahan itu membuatnya tampak lebih tidak biasa dan janggal dari biasanya. Sang gadis dan anak kecil lainnya telah datang dan mengintip ke dalam ruangannya, namun ketika mereka melihat dia, mereka menjerit kecil dan berlari tanpa ada tanda untuk kembali.
“...”
Pada ruangan kosong kuil, dia memilih kayu dari tumpukkan di sampingnya dan menatanya menjadi beberapa grup. Dia memiliki beberapa stik bulat besar yang di potong pada pegunungan utara. Dia menyilangkannya dan memperhatikannya—mungkin ini dapat di jadikan sebuah pagar.
“Hmm....”
Dia mengingat kembali pertemuannya dengan goblin hingga hari ini. Seberapa besar mereka? Tidak lebih besar dari anak kecil. Kecuali para hob.
Jika begitu, pertanyaan menjadi seberapa besar sudut horizontal dan vertikal yang di butuhkan. Kebanyakan orang mengira bahwa pagar yang kokoh sudah akan cukup untuk mengusir musuh, namun seseorang harus mempertimbangkan kemungkinan musuh akan memanjat pagar itu. Jika sudut horizontal terlalu berdempetan, maka pagar itu akan mudah untuk di panjat.
Dan juga, seperti julukan para goblin, “iblis kecil”, menandakan bahwa fisik tubuh mereka sangat kecil. Jika sudut vertikal terlalu lebar, maka mereka akan mudah melewatinya.
“Kalau begitu...”
Hal yang paling pasti adalah memasang sudut vertikal berdekatan.
Dia merakit kayu-kayu itu, mengikat erat untuk membuat pagar. Kemudian menghela napas. Pagar buatannya hampir terlihat seperti sebuah tangga yang tergeletak, namun akan cukup untuk sebuah pertahanan. Akan sangat sulit bagi para goblin untuk melewatinya.
Tiba-tiba, sebuah pikiran melintas di kepalanya: Aku juga harus buatkan untuk kebun suatu saat.
Dia menggeleng kepalanya perlahan, berkedip di dalam helmnya. Satu gelengan pelan lagi menyadarkannya bahwa kepalanya terasa nyeri. Ketika dia memikirkannya, dia mengingat bahwa dia terus bergerak semenjak pagi.
Dia mengeluarkan kantung air dari dalam tasnya dan meneguk panjang. Kemudian dia mengeluarkan potongan daging kering, mengirisnya menjadi irisan tipis dengan sebuah pisau, dan kemudian dia memasukkannya ke dalam helm. Setiap kali dia mengunyah, mulutnya yang hampir mengering terisi dengan rasa asin yang tidak mengenakkan.
Dia bersandar pada dinding dan menutup matanya, memfokuskan dirinya pada satu tindakan akan mengunyah daging. Lidahnya terasa sakit. Mungkin di karenakan garam? Dia kembali meneguk kksntung airnya, menelan air dan daging dalam sekali telan.
Dia berdiri perlahan. Di saat dia mengisi kembali kantung airnya, dia akan berjaga malam.
Para goblin tentunya akan mengirimkan pengintai mereka.
Dia meninggalkan kuil. Keluar, surya terakhir akan senja menyinari di horison, tampak begitu menyilaukan. Dia mengangkat tangan menutupi cahaya dan menatap langit. Ketika senja terlihat bersih, kakak perempuannya mmengatakan kepadanya, bahwa hari esok akan menjadi cerah. Jika cahaya terakhir dari hari adalah merah kehitaman, maka itu artinya hujan akan turun.
“Hujan.”
Pertarungan penentuan akan terjadi di malam berikutnya. Akan lebih baik jika tidak turun hujan. Paling tidak, tidak di pagi hari.
Namun sepertinya hujan akan turun. Jika memang terjadi, maka bagaimana? Dia tidak optimis dengan apa yang akan terjadi.
Bagaimana psra goblin menyerang? Itulah pertanyaan yang terus dia pikirkan seraya dia berjalan. Akhirnya, dia tiba pada irigasi kanal yang sekarang telah meninggi, tempat di mana para petani mencuci tangan seusai selesai memanen.
Dia menyalami singkat mereka, kemudian mulai mengisi kantung airnya.
“Bagaimana panennya?”
“Kurasa cukup baik,” kata sang petani yang mengambilkannya kayu pagi ini. Dia memiliki wajah hitam terbakar matahrai; sekarang tengah mengelapkannwajahnya dengan sir yang di celupkan di dalam kanal. Dia tersenyum lembut. “Lebih baik dari lima tahun lalu, dengan semua perang dan lain-lain. Para monster datang menginjak ladang dan membakar desa kami...”
“Ya,” dia berkata dengan anggukan. “Aku tahu.”
“Harusnya kamu memang tahu pak, kamu kan petualang.”
“...”
Pria itu tertawa riang, kemudian merebahkan dirinya di samping kanal. Dia tidak sedang melihat sang petualang yang berdiri di sampingnya, melainkam melihat matahari yang hampir terbenam di horison.
“Dulu...cuma desa yang menyewa petualang yang dapat bertahan.”
Dia terdiam, memperhatikan cahaya merah yang memanjang melintasi daratan. Tidak peduli sebarapa inginnya cahaya untuk terus mendekap bumi, ketika malam tiba cahaya akan menghilang, dan papan permainan akan di selimuti kegelapan. Kemudian waktu para goblinpun tiba. Betapa riangnya para monster itu untuk bergerak di kegelapan.
“Aku akan melakukan sebisaku,” dia berkata, dan kemudian mulai berjalan menuju ladang.
Malam itu, dia melihat cahaya samar, seperti cahaya hantu, berkelip di balik ladang.
Berjaga di dekat gudang, dia berdiri beberapa kali, mempercayai bahwa serangan goblin telah datang.
Akan tetapi ternyata, cahaya tersebut tidaklah lebih dari sekedar lampu para penduduk desa yang berpatroli.
Namun tetap saja, dia tidak dapat mengenyahkan perasakan bahwa itu adalah mata goblin yang membara.
Apakah dia sedang bertarung dengan goblin saat ini, atau tidak? Seraya malam berlalu dengan sebelah mata terbuka, sensasi realitanya menjadi buram ambigu.
Dia berdiri, melihatn sekitarannya, duduk tanpa suara, dan berdiri kembali. Setiap jam dia akan melakukan ini, menunggu dengan gelisah.
Apa yang dia sedang tunggu—goblin atau subuh? Dia sendiri tidak mengetahuinya.
Adalah subuh yang tiba terlebih dahulu.
*****
Bahkan walaupun hanya jika di lihat sekilas pada petualang yang berkumpul di pintu masuk tambang, jumlah mereka mencapai empat puluh atau lima puluh orang, menandakan bahwa terdapat sepuluh party berbeda yang berpartisipasi. Sebuah aliansi terbentuk. Berukuran sedang, dan tidak salah jika petualang tingkat tertinggi menghela napas mereka.
Seorang petualang tingkat Copper, seorang pria dengan armor berkilau, dengan tegas mengayunkan kipas perang untuk memberikan perintah. “Baiklah, dengar! Musuh kita berada di kedalaman tambang ini! Karena itu kita akan mengambil alih semua jalan tambang dan mengepungnya dari segala arah!”
Jenggot yang tercukur rapi dan pedang pada pinggulnya memberikannya sebuah aura yang membuatnya terlihat seperti bangsawan yang terkadang bermain sebagai petualang. Namun tidak seorangpun yang dapat mencapai tingkat tinggi hanya dengan bermodalkan tanah dan reputasi belaka.
“Orang ini kelihatan lebih cocok tinggal di kota daripada pertempuran bawah tanah,” Gumam Spearman, yang telah di tempatkan pada party Porcelain di garis depan.
Tetap saja, paling tidak mereka mempunyai tingkat Copper untuk memimpin mereka. Dari apa yang telah di lihat Spearman, pria itu tampak seperti petarung yang handal. Pengelihatan cepat di sekitarannya menunjukkan banyak orang bertingkat Porcelain atau Obsidian, sedikit di atas pemula.
Tentu saja, Spearman tidak mempunyai hak untuk menilai, namun setidaknya dia telah melalui satu atau dua pertarung. Tetapi pemula manapun yang memilih quest in sebagai pekerjaan pertama mereka karena terdengar lebih keren dari membasmi goblin...
“Ini membunuh kan? Apa mereka nggak bisa setidaknya menyiapkan beberapa drum minyak? Ada banyak blob di dalam sana.”
“Bego,” sebuah suarah terdengar, meletakkan tangannya pada pundak Spearman. “Bawa orang sebanyak ini di dalam ruangan sempit dan kamu tambah api? Kita semua bakal habis, aku jamin.” Sang pembicara adalah Heavy Warrior dengan pedang besar menggantung di punggungnya. “Dan pemberi quest kita pemilik tambang ini. Aku rasa dia nggak akan suka seseorang meledakkan apa yang dia punya.”
“Memangnya kenapa? Kamu pikir semua orang di sini bakal patuh begitu saja?”
“Ini bukan ekspedisi skala kecil. Perhatikan sekelilingmu baik-baik. Seseorang di sini mungkin saja bakal menyelamatkan nyawamu.”
“Memang mudah mengetahui siapa pemimpin party, mereka memang tahu cara berbicara.”
Jangan ngeyel, Heavy Warrior menasehati, mengernyit, dan kembali menuju rekannya.
Di dalam grupnya, seorang half elf fighter sedang mengawasi dua anak muda.
“Oke, sekarang, lakukan seperti yang kita lakukan pada goblin-goblin itu, maka kalian akan baik-baik saja,” sang half elf berkata.
“Ye-yeah. Tentu saja...” sang Bocah Scout berkata.
“Simpan mantramu. Blob nggak terlalu masalah, tapi Rock Eater lain cerita.”
“Baik pak,” Gadis Druid menjawab. Kedua anak-anak itu mengangguk serius. Mereka melirik kepada Heavy Warrior, dan dia memberikan mereka senyum pemberi semangat. Akan memberikan mereka rasa nyaman mengetahui bahwa pemimpin mereka menjaga anggotanya.
“Gimana denganmu?” Heavy Warrior memanggil. “Semua bagus?” dia sedang berbicara dengan seorang knight wanita, yaang sedang memasang pelindung tangan dengan ekspresi tegang. Pelindung tangan itu masuk dengan pas ke dalam tangannya layaknya sebuah sarung tangan.
Sang knight menoleh kepada warrior, mengibas rambut emas panjangnya. “Aki baik-baik saja,” dia berkata. “Yang lebih penting lagi, mana helmku?”
“Benar juga, kita perlu menggunakan itu. Hei, helm! Pelindung kepala!”
“Siap!” Bocah Scout merogoh tas miliknya dan mengeluarkan sesuatu yang terlihat seperti ikat kepala, sementara Half Elf Fighter mengangguk dan memakai topi kulit. Gadis Druid mengatur posisi pelindung kepalanya, sesuatu yang terlihat seperti topi lebar.
Di tengah semua ini, Heavy Warrior mendekati punggung Knight Wanita, terlihat lelah. “Kenapa sih kamu selalu memasang pelindung tangan duluan sebelum helmmu? Kamu nggak pernah berubah sama sekali...”
“O-oh, ribut. Aku cuma lagi nggak konsen dikit saja. Kesalahan kecil.”
“Itu sudah bukan kesalahan lagi kalau itu terjadi terus.” Dia menarik napas. “Sudahlah. Jangan bergerak.”
Knight Wanita menggerutu jengkel namun dia tidak bergerak. Heavy Warrior mengikat rambut emas panjangnya dengan gerakan yang tidak terlatih, memasang penjepit rambut di belakang kepala Knight Wanita.
“Kenapa kamu biarin tumbuh panjang? Ini cuma bakal menghalangi.”
“Yah, maaf saja ya kalau aku ingin terlihat sedikit seperti wanita.”
Itu doang?” Heavy Warrior bergumam, mengambil helm dari tasnya. Knight Wanita menerimanya dengan sedikit panik dan mengencangkan pengikatnya dengan sedikit mengeluh.
Heavy Warrior juga mengeluarkan topi kulit baru untuk dirinya sendiri, memasangnya dan mengikat pengikatnya. Sekarang mereka telah siap.
“Gimana denganmu?” dia bertanya. “Siap pergi?”
“Yeah.”
Dia sedang berbicara kepada warrior muda pemula.
“Yah, “muda”—dia tidaklah begitu berbeda jauh dari umur Heavy Warrior, mereka berdua tidak lebih dari lima belas atau enam belas tahun. Dia berbeda dengan Bocah Scout dan Gadis Druid yang telah berbohong dengan umur mereka, oleh karena itu Heavy Warrior tidak terlalu mengkhawatirkannya. Lagipula, pria itu terlihat cukup kompeten seraya dia memeriksa kondisi perlengkapan dan senjatanya.
“Sepertinya ini bukan petualangan pertamamu.”
“Aku pernah pergi membasmi goblin sekali.”
“Membasmi goblin?” Heavy Warrior bergumam, mengernyit. Kenangan itu telah membuatnya malu.
“Jangan desak dia,” Knight Wanita menyela, ketika dia mendengar pembicaraan mereka.
“Ada apaan?” tanya Spearman, dan Knight Wanita dengan semangat menceritakan kisah kegagalan pemimpin partynya.  Walaupun helmnya menyembunyikan ekspresinya, tidak di ragukan terdapat seringai bibir di balik helmnya.
“Aku nggak ada lihat orang aneh itu.” Heavy Warrior berkata, mengganti topik pembicaraan.
“Siapa?”
“Yang selalu berbicara tentang goblin.”
“Oh, dia.” Sang warrior muda berkata, mengambil helmnya sendiri. Kemudian menambahkan dengan kepastian, “Aku yakin dia lagi pergi membasmi goblin di suatu tempat.”
*****
Dari desa terdengar suara riang gembira, bercampur dengan suara musik dan aroma api terbakar.
Sumbernya kau ketahui, tetapi kemanakah ia sirna? Rupa sesungguhnya kau ketahui, tetapi rupa itu tidak berwujud. Sebuah teka-teki kuno dari gurunya yang di lontarkan kepadanya.
Dia mengambil barangnya dan mulai berjalan, menjauh dari kerumunan. Pendamping satu-satunya dia seraya dia pergi adalah suara yang memudar dan aroma festival.
Cahaya pertama akan musim panas terasa begitu menyengat hingga seperti terbakar, tasnya menggigit pundaknya, dan setiap langkah terasa begitu berat.
Namun langkah tetaplah sebuah langkah.
Angkat satu kaki ke depan, gerakan tubuhmu, kemudian kaki berikutnya, tubuh maju.
Satu langkah.
Jika kamu mengambil satu langkah lagi dan lagi, kamu akan bergerak maju ke depan. Langkah akan semakin bertambah, hingga pada akhirnya, kamu tiba ke temppat yang kamu tuju.
Waktu, dan kekuatan tubuh, adalah faktor pembatas, namun tetap saja, tidak ada satu tempatmu yang tidak dapat di jangkau dengan berjalan kaki.
Oleh karena itu, dia mengeratkan giginya dan berjalan, dan ketika dia tiba pada pinggiran desa, dia mendapatkan sebuah tempat untuk dirinya sendiri.
“...”
Pertama, letakkam barang bawaan. Dia meembawa pagar pembatas yang telah di buatnya pada hari kemarin, dan tentu saja, tujuannya adalah untuk memasangnya. Karena goblin bertubuh pendek, pagar ini tidak perlu terlalu tinggu, namun tetap saja ppagar ini cukup berat.
Pasak di sungail dan ketika tidak ada sungai, sebuah pagar. Tidak ada waktu bagi dirinya untuk menikmati festival.
Tapi untuk para penduduk desa, aku perlu mereka untuk menikmati pesta kecil mereka.
Jika semua warga desa tiba-tiba bekerja memperkuat pertahanan, maka para goblin tentunya akan menyadari. Mereka mungkin akan mencari jalan lain dengan otak kecil busuk mereka, dan keadaan akan menjadi semakin buruk.
“Hrm...”
Dengan itu, dia mengerahkan segala kekuatannya untuk mulai bekerja. Tanpa suarak keringat mengucur di alisnya, dia menanamkan pagar pada bumi, mengikatnya dengan tali, kemudian berpindah pada bagian lain.
Ketika dia kehabisan pagar, dia akan kembali untuk mengambil pagar baru, dan ketika dia tiba di sungai, dia pergi mengambil pasak, dan melanjutkan pekerjaannya. Dia menyukai hal seperti ini: bekerja seksama, secara mekanikal, tidak memikirkan hal lainnya.
Lagipula, dia tidak begitu piawai dalam berpikir. Kakak perempuan dan masternya tidak pernah ragu untuk mengatakan hal itu tepat di depan mukanya.
Sejujurnya, dia sangat menyadari bahwa dia, mungkin, sedikit bodoh.
Karena itu terus berpikir!
Masternya meneriakkan kalimat itu kepadanya, dan dia tidak memiliki niatan untuk mengacuhkan ajaran gurunya, namun berpikir adalah hal yang melelahkan. Terkadang sangatlah mudah untuk hanya sekedar fokus dengan apa yang ada di depannya. Dia menyukai itu lebih dari apapun.
Saat ini, yang perlu dia pikirkan adalah bagaimana cara mendirikan pagar dan memasang pasak di sungai.
Goblin.
Benar, ini demi mrlindungi desa dari para goblin.
Goblin. Goblin...
Dengan setiap batang pagar yang dia dirikan, dia berpikir tentang membunuh satu goblinl dia terus memikirkan hal yang sama di setiap pasak yang dia tancapkan di sungai.
Layaknya sebuah lamunan: sayat dengan pedangnya, atau hantam dengan perisainya; gorok tenggorokan, patahkan rusuk.
Bagaimana dia akan membunuh mereka? Cara apa yang akan dia gunakan? Seperti apa dia akan menyerang; bagaimana cara mencabut nyawa mereka?
Dia telah mempelajari sebanyak yang dia bisa dari pertarungan sebelumnya.
Goblin sangat lemah. Satu lawan satu, mereka bukanlah ancaman. Warga desa pun dapat mengusir satu goblin pergi, bahkan membunuhnya.
Pertanyaannya adalah bagaimana cara melakukan itu berkali-kali.
Masuki gua. Apakah ada sepuluh musuh? Dua puluh?
Dalam kemungkinan terburuk, dia mungkin akan perlu membunuh dua puluh musuh dengan pedang. Dia membutuhkan stamina.
Dan senjatanya: seseorang yang handal menggunakan pedang dapat memfokuskan setiap serangannya, namun dirinya hanya mengayunkan pedangnya secara sembarangan. Mata dari pedang dapat tercuil karena benturan dengan tulang, atau menjadi tumpul di karenakan lemak seraya pedang memotong.
Kalau begitu apa yang akan aku lakukan?
Tangannya berhenti bergerak, dan dia menatap langit. Tidak ada jawaban di sana. Tidak ada seorangpun yang mengajarinya tentang apa yang harus di lakukan.
Menggunakan pentungan? Tidak—pentungan mudah di ayun, tetapi hanya ayunan yang dapat di lakukan pentungan. Jika di lihat dari sudut pandang keserbagunaan...
“Tidak.”
Bukan itu. Dia menggeleng kepalanya.
Dia dapat mendengar festival di kejauhan. Tiba-tiba dia merasa mendengar suara tak asing memanggil namanya.
Skor satu, maka mendapatkan bir untuk orang dewasa, dan jus lemon untuk anak-anak.
Dia telah sering berlatih.
Dia sangat piawai dalam melempar sesuatu. Dia selalu siap untuk menyombongkan cara dia melakukan ini untuk kakak perempuannya, dan gadis tetangga.
“Pagar.” Dia bergumam. “Harus bangun pagar.”
Dia meraih peralatannya, hanya untuk menemukan bahwa dia telah menggunakan semua pagar yang di bawanya.
Dan tidak hanya itu saja; dia menyadari bahwa dia telah selesai melakukan satu putaran mengelilingi desa. Bagian pagar yang dia pasang berdiri berdampingan; yang hanya dia perlu lakukan sekarang adalah mengikatnya.
Di sisi lain pagar adalah lahan terbuka, dan pegunungan utara di kejauhan. Para penduduk desa mengatakan bahwa itu adalah sebuah tambang.
Dia memberikan sbuah tendangan pada pagar yang tidak terikat. Pagar itu berdecit di karenakan hantaman dan berayun, menciptakan sebuah celah kecil.
“...”
Dia memperhatikannya dengan seksama, kemudian kembali menatap langit. Sangatlah jelas bahwa goblin akan memanfaatkan celah ini.
Matahari hampir tertidur. Senja mewarnai angkasa, dan dia dapat mendengar teriakan naga petir.
Di sini, dia menyadari bahwa dia belum makan semenjak pagi itu. Dia menuangkan air ke dalam tenggorokannya yang menggelitik. Kemudian mengeluarkan daging kering dan memasukkan dengan paksa ke dalam mulutnya. Kunyah, telah. Tenggorokannya masih terasa kering walaupun sudah di basuh dengan air, namun setidaknya ini akan cukup untuk mengembalikan fokusnya.
Dia berjongkok di antara semak-semak dan mengeluarkan obor. Obor yang terbuat dari getah pi us dan sulfur, cangkang kenari, dan tinja kering tikus dan sapi yang telah di campur dengan alkohol.
Dia menggenggam obor, menunggu matahari tertidur sepenuhnya.
Dan kemudian...